THERE’S NO GRAY AREA

Belum lama ini, aku bertemu dengan orang yang sudah lama aku kenal, yang bahkan aku anggap seperti kakak sendiri, membawa serta keluarga kecilnya ke tanah Jawa. Putri kecilnya yang lucu dan chubby itu, bisa membuat kami semua melongo dengan selera makannya. Dan betul-betul putri kecil itu replika dari Ayah-Bundanya.

Beberapa waktu yang lalu aku sempat menulis tentang ethos kerja PNS yang menurutku kacrut. Dan kali ini, aku seperti menemukan sebongkah berlian. Pada suatu kesempatan bisa ngobrol berdua saja, aku rasai sebuah kekaguman muncul. Kekaguman pada sikapnya. Dia bercerita tentang lingkungan kerjanya. Beberapa kali dipanggil atasan karena dinilai terlalu saklek dengan aturan. Apalagi dia diamanati mengurusi daftar hadir. Terlalu saklek dengan aturan, membuat yang sering tidak taat aturan jadi menggerutu. Kedisiplinannya dalam menyelesaikan pekerjaan juga malah membuatnya dicemburui sesama rekan kerjanya. Tapi dia tidak gentar dengan itu. Dia tidak perlu bermuka dua untuk menyenangkan semua orang.

Aneh. Orang yang punya kinerja yang baik, bisa menjadi contoh kebaikan untuk rekan kerjanya, bisa meningkatkan performa organisasi, malah dicemburui, digerutui banyak orang. Kalau saja ada lebih banyak orang seperti dia, bukankah kinerja dalam lingkungan pemerintah semakin baik? Yaa.. mungkin begitulah jika kita memilih untuk tidak mengikuti arus. Apalagi arus yang diikuti adalah arus yang salah. Membuat arus sendiri nampaknya sebuah pilihan yang paling tepat dalam hal ini, walaupun ditentang dan dicibir oleh banyak orang. Tetapi aku percaya, kebaikan akan selalu menemukan jalannya.

Aku jadi teringat dengan Soe Hok Gie yang selalu menyuarakan kebenaran. Makin sering dia bersuara, makin banyak musuhnya. Juga tokoh Minke dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Juga Munir. Tapi kehidupan akan selalu berimbang. Makin banyak yang menentang, makin kita menemukan orang-orang yang berada di pihak kita.

Kali ini aku belajar dari dia untuk punya sikap. There’s no gray area. Nggak ada area abu-abu. Belajar memilih dengan segala konsekuensinya. Dan tidak perlu bermuka dua untuk menyenangkan semua orang. Orang-orang yang memilih untuk berada di area abu-abu, lebih mudah diombang-ambing oleh angin, berusaha menyenangkan semua orang, tapi hatinya sendiri tak pernah senang, pikirannya penuh curiga, akhirnya hanya hidup dengan penuh kekhawatiran-kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu.

“Aku tak mau jadi pohon bambu. Aku mau jadi pohon oak, yang berani menentang angin.” ~ Gie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *