May 3, 2016

Setiap Anak adalah Juara, Setiap Manusia adalah Juara

NoteNo Comments

You Are Here:Setiap Anak adalah Juara, Setiap Manusia adalah Juara

Dulu sebagai siswa aku pernah terjebak dalam pandangan umum yang mengatakan bahwa anak cerdas adalah anak yang juara kelas, mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran, masuk sekolah unggulan, lebih hebat lagi bila masuk kelas unggulan. Woohhh..itu idaman orangtua dan guru banget. Perfect! Kalau nilainya bagus, pintar di semua mata pelajaran, anak ini akan bisa masuk universitas ternama, kemudian mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan ternama dengan gaji besar. Dan itulah deskripsi “sukses” menurut pandangan sebagian besar dari masyarakat kita.

Ada sebuah cerita, karena pandangan seperti itulah yang diterima oleh masyarakat, termasuk orang tua, anak yang biasa-biasa saja, dengan nilai pas-pasan, semakin terseok-seok langkahnya ketika tiba waktu sekolah. Sekolah hanya menjadi asik karena bisa bertemu dengan teman. Sementara itu, pelajaran tidak menarik lagi. Namun karena tuntutan orang tua dan pandangan masyarakat tadi, akhirnya si anak harus mengikuti les di sana-sini. Dia baru pulang sekolah jam 4 sore. Setelah maghrib berangkat lagi les mata pelajaran yang menjadi kelemahannya hingga jam 9 malam. Tentu dengan les, harapannya si anak menjadi lebih paham, nilainya bagus, kalau perlu angkanya sempurna. Tapi apa yang terjadi? Si anak tetap saja remidial dan remidial lagi pada bidang-bidang yang menjadi kelemahannya. Mau jungkir balik les kesana-kemari tetap saja nilainya segitu. Ngos-ngosan untuk mencapai nilai ketuntasan agar tidak masuk kategori remidial.

Namun, dibalik semua kelelahannya (fisik dan mental) dalam belajar untuk mencapai standar ketuntasan minimum, ia tidak pernah remidial pada pelajaran bahasa inggris dan komputer. Pada dua pelajaran itulah, teman-temannya sering meminta bantuan. Entah itu membantu dalam bentuk penjelasan ulang, menyelesaikan tugas, atau memberikan contekan. Sayangnya, lagi-lagi kita harus kembali lagi pada pandangan sebelumnya. Kelebihan si anak tetap tidak bisa dikatakan sebagai bekalnya untuk menghadapi dunia di kemudian hari. Dan sekali lagi, tanpa sadar, fokus si anak akhirnya hanya tertuju pada kelemahannya yang bertumpuk-tumpuk itu. Sementara, kelebihannya semakin hari semakin meredup.

Begitulah jika definisi cerdas hanya berfokus pada nilai-nilai yang bagus di semua mata pelajaran. Dan ternyata pandangan seperti itu tidak benar. Menurut Howard Gardner, penemu teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences), kecerdasan setidaknya dapat dibagi dalam 8 jenis kecerdasan. Ada cerdas bahasa (linguistik), cerdas visual, cerdas interpersonal (bergaul), cerdas intrapersonal (diri), cerdas naturalis (alam), cerdas musik, cerdas kinestetis (olah tubuh), dan cerdas logis-matematis (angka). Di antara 8 jenis kecerdasan itu pasti setidaknya ada 1, 2, atau 3 yang menonjol. Sementara yang lainnya lebih lemah. Teori ini mengajak untuk memaksimalkan kecerdasan yang menonjol dan menutup rapat-rapat kecerdasan yang lebih lemah.

“Penting banget ya tahu tentang kecerdasan majemuk itu? Dulu nggak ada kayak gitu dan semua baik-baik saja!”
Menurutku sih penting banget ya. Dengan mengenali jenis kecerdasan yang dimiliki anak, itu akan membantunya untuk menentukan arah karier dan profesinya kelak, sesuai dengan modal yang diberikan Tuhan kepada si anak. Misalnya saja, anak yang cerdas bahasa adalah calon-calon penulis, penyiar radio, atau wartawan. Anak yang cerdas visual adalah calon desainer, arsitek, atau pelukis. Anak yang pandai bergaul adalah calon-calon negosiator, konselor, atau manajer. Anak yang cerdas intrapersonal adalah calon-calon psikolog, pemimpin agama, atau psikiater. Anak yang punya kecerdasan naturalis adalah calon-calon peneliti, dokter hewan, atau aktivis lingkungan. Anak yang cerdas musik adalah calon-calon penyanyi, komposer, atau pencipta lagu. Anak yang cerdas kinestetis adalah calon-calon atlet, aktor, atau penari. Sedangkan anak yang cerdas logis-matematis adalah calon-calon programmer, ilmuwan, atau ahli ekonomi.

Bayangkanlah bila sekolah, guru, dan orangtua tidak memahami kelebihan si anak. Kecerdasannya yang menonjol tidak pernah dihargai, sementara kelemahannya terus yang diulik untuk diperbaiki. Akhirnya, si anak menjadi rendah diri, tidak percaya diri, mempercayai bahwa dirinya bodoh, dan yang paling buruk adalah stres. Ketika ditanya, “Kamu mau kuliah di jurusan apa?” Jawabannya, “Nggak tahu, mana aja lah yang sekiranya bisa lulus tes masuk.” DENGGGGGG!!

Sebaliknya bila anak dihargai kecerdasannya, itu akan sangat memudahkan dia dalam menemukan gaya belajarnya. Anak juga lebih percaya diri dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Anak yang dihargai kecerdasannya, bila diberi dukungan dan stimulus yang tepat kemampuannya bisa melejit.

Aku tidak berkuliah di jurusan keguruan ataupun psikologi, maka janganlah percaya seratus persen dengan apa yang aku tulis ini. Saranku, langsung merujuklah pada buku-buku ini:
1. SEKOLAHNYA MANUSIA (Munif Chatib)
2. SEKOLAH ANAK-ANAK JUARA (Munif Chatib)
3. BELLA (Munif Chatib)
4. BAKAT BUKAN TAKDIR (Bukik Setiawan)
5. RAHASIA AYAH EDY MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK (Ayah Edy)
(Buku-buku ini bisa didapatkan di https://www.tokopedia.com/sentrainspirasi/etalase/parenting-pendidikan)

Dan sebenarnya masih banyak buku-buku lain yang sama pentingnya untuk mendapatkan penjelasan lebih, bahkan pelaksanaan teknis bagaimana menerapkan teori kecerdasan majemuk ini hingga menemukan arah karier anak. Bila semua buku-buku ini digabung, benang merahnya sama.

Buku Munif Chatib, Ayah Edy , Bukik Setiawan
Aku baru ngeh dengan semua ini di usia 23 atau 24 tahun, yang menurutku cukup telat. Awalnya hanya karena sering dengerin talkshow parenting, lama-lama jadi ngeh bahwa ada banyak hal yang perlu dibenahi dari sistem pendidikan di Indonesia. Dan banyak paradigma keliru yang dipercayai, kemudian dianggap jadi kebenaran umum hanya karena setiap orang mengatakan begitu. Tentu membenahi itu tidaklah mudah. Perlu kerjasama dan kesadaran bersama dari sekolah, guru, dan orangtua. Tapi aku percaya bahwa sistem ini sedang diperbaiki. Pak Menteri Anies Baswedan sedang membawa Indonesia menuju ke sana.

Beruntunglah bila sejak dini anak sudah dipahami kecerdasannya, kelebihannya, dan potensinya. Maka arah masa depannya bisa lebih jelas, bukan hanya berdasar asumsi dan kata orang saja. Maka, di usia sekitar 20-an tahun ia sudah berkarya, berkontribusi bagi banyak orang, atau bahkan berkeliling dunia karena potensi yang dimilikinya (bukan hanya menjadi pekerja yang stres dan mengeluh setiap hari). Biaya dan waktu yang digunakan untuk belajar adalah investasi. Contohnya, Sungha Jung dan Joey Alexander.

Nah, bagaimana kalau sudah bukan anak-anak lagi? Ada dua pilihan. Pertama, jalani saja apa yang sudah ada dan berisiko untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja, banyak mengeluh, banyak stres, nggak enjoy dengan apa yang dikerjakan, tidak banyak berkontribusi bagi sesama, lebih berorientasi hanya pada materi dan menghitung untung rugi. Atau, pilihan yang kedua, ubah haluan, cari jalan baru berdasarkan kelebihan yang sudah diberikan Tuhan. Potensi, passion, ketertarikan pada hal-hal tertentu itu diberikan Tuhan sebagai modal untuk menjadi manusia yang berguna. Gifted. Itulah misi hidup yang sudah digariskan Tuhan. Masa iya Tuhan nggak ngasih jalan? Aku pernah dipesani Ayah Edy untuk membaca buku-buku Biografi orang sukses dan lebih banyak menunjukkan bukti atas kemampuan yang dimiliki. Andaikan semua orang menjalani karier sesuai dengan potensi unggulnya, maka dunia ini akan lebih baik. Karena setiap orang melakukan profesinya dengan sepenuh hati, berdedikasi dan penuh pengabdian.

Tidak ada anak bodoh. Semua anak cerdas. Semua anak juara pada bidangnya masing-masing. Tinggal sekolah, guru, maupun orangtua mau tidak untuk mengangkat kelebihan dan menutup kelemahan si anak.

Ehh, ada lagu bagus dari Billy Joel. Judulnya “James”.

James…do you like your life,
Can you find release,
And will you ever change
Will you ever write your masterpiece.
Are you still in school
Living up to expectations
James…
You were so relied upon, everybody knows how hard you tried
Hey…just look at what a job you’ve done,
Carrying the weight of family pride.
James…you’ve been well behaved,
You’ve been working hard
But will you always stay
Someone else’s dream of who you are.
Do what’s good for you, or you’re not good for anybody

About the author:

Eria Arum adalah seorang yang passionate di bidang ilustrasi dan motion graphic. Saat ini tengah membuat English Learning Video untuk #EasyEnglish @karlinakuning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top