DECIDE.. Jangan MANUT..

Pernah ketemu sama orang yang ketika kamu memberikan pertanyaan sering bilang, “Terserah, ngikut aja” ? Gimana? Nyebelin nggak? Kalau aku ada di posisi penanya, itu bener-bener nyebelin denger jawaban kayak gitu. Karena itu bukan jawaban. Dan aku punya kebiasaan bilang, “Terserah, ngikut aja,” dari dulu. Sadar kalau itu nyebelin, aku punya komitmen dengan diri sendiri untuk memilih A atau B daripada bilang “terserah”.

Sekalipun sudah berusaha untuk menjaga komitmen, tapi aku juga masih sering lupa, balik lagi ke kebiasaan yang dulu. Kemarin, aku berasa diingetin gitu. Aku ditawarin opsi A atau B, dan aku bilang, “Ya.. aku manut, mbak..”. Kemudian, aku dibales dengan, “Decide (putuskan).. Jangan Manut…” OMG, aku tiba-tiba inget gitu. Aku membatin aja, “Ooo iya ini nggak bener”.😂

Menghilangkan kebiasaan bilang, “terserah”, “manut”, “ngikut aja”, kayaknya sepele banget, padahal itu juga nggak mudah. Kalau aku refleksi ke belakang, aku bisa terbiasa bilang kayak gitu karena dibiasakan untuk tidak mengambil keputusan sendiri dengan segala konsekuensinya. Dan tidak dibiasakan juga untuk didengar pendapatnya. Akhirnya, ya mulai terbiasa ngikut aja, manut aja, gitu.

Aku mikir aja, kalau aku bawa kebiasaan itu seumur hidup, runyam hidupku. Semakin bertambah umur, akan makin banyak keputusan-keputusan yang harus dipilih. Kan nggak mungkin aku jawab dengan “Manut aja”. Aku bisa terombang-ambing keadaan, bisa terombang-ambing dalam arus. Entah itu arus yang benar atau salah.

Mengambil keputusan itu juga perlu belajar ternyata. Aku pernah mengambil sebuah keputusan, dan hasilnya fatal banget menurutku. Mengambil keputusan dengan pertimbangan “nggak enakan” dan keterpaksaan itu nggak bener. Jadi pelajaran banget buat aku, bahwa ketika mengambil keputusan seharusnya dipikirkan dengan benar. Kalaupun ada risiko, risiko itu adalah risiko yang masih terukur dan sanggup untuk dihadapi. Dan memutuskan dengan penuh kesadaran. Bukan karena prinsip “nggak enakan”.

Ada sebuah buku bagus dari Prof. Rhenald Kasali, judulnya “Self Driving”. Buku itu isinya tentang bagaimana menjadi driver untuk diri sendiri, pemimpin untuk diri sendiri, bukan hanya sekedar menjadi follower, ngikut kata orang, ngikut lingkungan. Keren banget lah bukunya. Habis baca buku itu, bisa baca buku “30 Paspor di Kelas Sang Profesor (Part 1 & 2)”. Kedua buku ini adalah kisah-kisah perjalanan Mahasiswanya Prof. Rhenald untuk berpetualang ke luar negeri sendirian karena tugas kuliah yang diberikan. Dan itu adalah bentuk pelajaran Self Driving dari beliau. Habis baca buku-buku tadi, aku sempet kepikiran untuk segera buat paspor.😂

Hidup adalah membuat Keputusan. Nggak ada pilihan Ngikut aja.😤

Anyway, buku yang aku sebutkan tadi bisa didapetin disini ~> tokopedia.com/sentrainspirasi 😎

Merespon dengan Antusias

Bayangkan ini:
Suatu hari, kamu ingat temenmu akan berulang tahun bulan depan. Sebelum hari H, kamu memilih-milih, nyari ide, apa kiranya kado yang cocok buat dia. Akhirnya, kamu dapet ide kado yang dia banget pokoknya. Dan kamu nyiapin itu sebulan sebelumnya. Pas hari H, kamu kasih dong kado itu ke dia. Eh, tapi dia cuma merespon dengan, “O ya.. makasih ya..” Habis itu dia juga nggak ada ngirim pesan atau nge-chat kamu tentang kado itu. And then, what do you feel? Biasa-biasa aja?

Bagaimana kalau respon temenmu ketika kamu kasih kado yang udah kamu siapkan khusus buat dia itu begini:

“Woww..Apa ini?”
“Buka yaaa? Buka yaaa?
Dan kamu mengizinkan dia membuka itu.
“Woww.. Aaaaaaaaaakkkk.. Sukaaaaa.. Sukaaaaaa…”
Terus tiba-tiba dia meluk kamu sambil bilang, “Makasih yaaaa..”

Apa yang kamu rasakan ketika menerima respon seperti ini? Beda nggak dengan cerita sebelumnya?

Misalnya lagi, kamu baru saja berhasil melakukan sesuatu yang menurutmu penting banget. Dan kamu pengen dong membagi rasa bahagiamu ke temenmu. Kamu pun memulai ceritamu dengan antusias, cerita ini itu. Tapi respon temenmu cuma, “Mmm… Mmmm… Mmm.. Ya.. Oke.. Mmm.. Ya..” Kamu pun sampai di ujung ceritamu dan temenmu juga kemudian nggak ada tanggapan sedikit pun selain kata-kata tadi. Gimana coba perasaanmu? Kira-kira besoknya kamu bakal cerita lagi nggak ke dia?

Bagaimana kalau respon temenmu begini:

“Oh yaaa?”
“Kok bisa?”
“Terus gimana?”
“Ohh gitu ya?”
“Kereeennn” (sambil dia memberi 2 jempol untuk kamu)
Dan selama kamu cerita, dia memusatkan perhatian hanya ke kamu.

Apa yang kamu rasakan ketika mendapat respon seperti ini?

Kayaknya sepele banget ya, respon-respon begini. Tapi dari hal yang sepele ini, ternyata bisa memunculkan perasaan yang berbeda. Satunya merasa tidak dihargai, satunya lagi merasa dihargai banget. Satunya merasa dianggap nggak penting, satunya lagi merasa dianggap penting banget. Bagaimana kalau ini terjadi nggak hanya dalam level pertemanan, tapi lebih jauh lagi ke pasangan, atau anak ke orangtua. Respon yang nggak tepat, pastinya akan memunculkan hal yang pelik. Apalagi kalau respon yang tidak tepat itu dikumpulkan sampai bertahun-tahun, gunungan masalahnya juga lebih tinggi.

Setiap orang punya pendapatnya sendiri sih soal ini. Tapi, aku memilih untuk belajar dari orang-orang yang bisa merespon dengan antusias, walaupun sejatinya aku lebih banyak poker face-nya. Setidaknya aku jadi belajar untuk membuat orang lain merasa dihargai dan merasa bahwa dirinya dan seluruh ceritanya juga penting.

Ilustrator Buku

About a year ago, I imagined this. And now, it’s a reality.

Setahunan yang lalu, Miss K pernah nanya aku begini, “Mana gambarmu? Siapa tahu kamu bisa jadi ilustrator bukuku”. Dalam batinku, “Wah iya, jadi ilustrator buku, gambarku juga akan tercetak beeeeerlembar-lembar.” Mulai kebayang, akan aku kasih ke siapa aja buku itu nantinya.

Aku sadar diri, gambaranku masih kayak gitu. Mau jadi ilustrator buku? Sejak saat itu aku mencoba latihan nggambar lagi, nyari tutorial di youtube, mengamati ilustrasi buku, mengamati hasil gambar ilustrator lain. Kalau menemukan moment yang pas, tiba-tiba aja terlintas visualnya begini, begitu. Kayak misalnya habis nonton film, dengerin lagu, ngefans sama orang.. Bahaha.. Aku juga banyak terinspirasi bukunya Wahyu Aditya (@maswaditya), Kreatif Sampai Mati.

Terinspirasi dari Music Video-nya Mondo Gascaro - Komorebi
Terinspirasi dari Music Video-nya Mondo Gascaro – Komorebi

Terinspirasi dari film Perfect Two
Terinspirasi dari film Perfect Two


JANUARI 2016
Miss K post gambarku di Fb-nya. Daaannnn beberapa jam kemudian, aku dihubungi mbak G, editor bukunya Miss K. Langsung diminta bantuan untuk ngisi ilustrasi bukunya Miss K. Aku masih setengah nggak percaya gitu, beneran atau nggak ini..

MARET 2016
Bukunya sudan terbit. #EasyEnglish Part 2.😍
Ilustrasi #EasyEnglish Part 2 - Karlina Denistia

KETEMU AYAH EDY
26 Maret 2016, Ayah Edy seminar di Jogja. Ini kali ke-3 aku ketemu beliau. Aku cerita progress dan aku kasih buku EE 2, sambil bilang, “Ayah, saya dapet kesempatan jadi ilustrator buku.” Daaann respon beliau adalah ngajak toss. “Kalau gitu, Ayah minta tanda tanganmu.. Sebentar, Ayah ambil pulpen,” kata Ayah Edy sambil beranjak dari tempat duduknya. Padahal, Ayah Edy lagi pegang pulpen juga. Aku juga bawa pulpen. Bedanya apa? Beliau ngambilin pulpen yang bagus untuk tanda tangan. Oh My God.. My hands trembled.
with Ayah Edy
Jogja, 26 Maret 2016

***

I learnt something from this. Kalau ada yang bilang bahwa mimpi harus divisualkan, bahwa apa yang selalu kita pikirkan itu yang kita dapet, bahwa Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya, mungkin itu semua ada benarnya. And, I proved it. Dari hal ini, aku juga belajar untuk scale-up mimpi.

Ini baru langkah awal yang baik. Sebagian dari petunjuk-Nya that I am on the right way. I believe, there’s something big still waiting for me. Dan untuk menyambut itu, tentunya menangkap ikan yang besar nggak bisa dengan umpan yang kecil, masih perlu baaaaanyak belajar lagi. Practice makes perfect. Dan kesempatan hanya akan bertemu dengan kesiapan.

Last, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada mbak Karlina Denistia untuk segala bentuk support-nya, mbak Gita Romadhona untuk kesempatannya, dan Ayah Edy untuk ilmunya mengenali potensi diri.

Dan tulisan ini aku tutup dengan sebuah lagu dari John Mayer, Bigger than My Body. Belakangan, aku jadi sering muter lagi ini karena denger pertama kali di radio pas mbak Tika Yusuf siaran 😆. Padahal ini lagu lama. Tapi aku suka liriknya.

Belajar Value dari KK

Sekitar 2 tahun yang lalu, itu kali pertama aku ketemu Miss @karlinakuning. Berawal dari rajin ngikutin #easyenglish, kok ya aku pengen buatin video, kemudian kok ya ditanggepin serius 😙. Nggak kebayang banget, ditanggepin serius, terus malah masih lanjut sampai sekarang. Ooo yaa… rezeki kan nggak melulu soal uang.

Aku paling seneng ketika ketemu sama Miss K. Kenapa? Karena aku selalu dapet insight baru. Setidaknya, kalau hari itu nggak dapet insight baru, pasti kena ambience positifnya. Karena Miss K itu cheerful banget. Bahaha.. Eh.. ini bener lho tapi.

Dari obrolan-obrolan singkat, dari sering komunikasi sama Miss K, aku dapat beberapa value yang mungkin ini bisa diikutin siapa aja, termasuk aku. Antara lain:

>> Tepat Waktu
Miss K itu orangnya tepat waktu, bahkan datang sebelum waktunya. Misalnya, janjian makan jam 12.00. 11.50 Miss K udah nge-WA aku, “on the spot..”. Aaaaaakkkkk.. aku masih di jalaaaannn 😱. Kebayang nggak sih, itu cuma janjian makan, kalau aku jadi muridnya apa aku nggak disuruh pulang aja kalau aku telat 🙈. Itu prinsip. Itu disiplin.

>> Punya Mimpi
Miss K pernah cerita sama aku, kalau dulu waktu S1 dia udah mikirin tesis. Terus dia juga punya target untuk selesai S3 sebelum 35. Penelitiannya pun dari S1-S3 akan saling berkaitan. Kebayang nggak sih, saat yang S1 aja banyak yang berprinsip yang penting lulus dan dapet ijazah, eeehh.. Miss K udah mikirin tesis. Dan S3-nya gimana? Dapet boo.. Dapet beasiswa untuk S3 di Jerman. Minggu depan Miss K udah menatap langit dari Jerman.

Ayah Edy bilang dalam salah satu bukunya, intinya kalau pengen profesional kelasnya jangan kelas kampung, tapi levelnya dunia. Sejak aku tahu Miss K dapet beasiswa ke luar negeri, entah kenapa luar negeri serasa lebih dekat. Aku jadi pengen ke luar negeri. Caranya gimana? Aku juga belum tahu. Mungkin karyaku yang ngebawa aku ke sana. Impian besarku adalah punya karya yang mendunia. Allah pemilik seluruh dunia ini, baik yang di langit maupun di bumi. Jika Dia sudah berkehendak, nggak ada yang nggak mungkin.

>> Mudah Mengapresiasi & Berpikir Positif
Waktu aku dulu ngetweet video yang aku buat pertama kali, tanggapan Miss K adalah “Bagus bangeeettt.” Padahal dalam batinku, apa nggak berlebihan Miss K bilang kayak gitu..😒 Waktu aku pertama kali ngebuat karakternya bisa ngomong, waktu aku buat orang lari, waktu ngebuat karakternya nangkep jangkrik, itu juga diapresiasi sama Miss K. Padahal aku ngerasa awal-awal videoku itu freak banget. Sekarang lebih lumayan lah. Tapi karena apresiasi itulah aku jadi semangat untuk ngebuat video yang lebih baik lagi.

Dalam batinku, ooooo gini ya rasanya diapresiasi. Dari situ aku belajar untuk mengapresiasi usaha orang lain. Karena ternyata apresiasi itu dampaknya luar biasa, setidaknya bagi aku. Aku inget banget Pak Munif Chatib bilang, “Kalau ketrampilan seseorang diapresiasi, dia akan melejit.”

>> Seneng Berbagi
Miss K itu foundernya CAC Jogja, relawan Kelas Inspirasi, ngisi kelas Akademi Berbagi, #easyenglish pun itu project berbagi ilmunya. Passionate banget dalam berbagi. Dari #easyenglish aja yang awalnya hanya diniatin untuk berbagi, 4 tahun kemudian dihubungi penerbit dan jadi buku, #easyenglish pun kemudian jadi konten di radio. Dan semua kegiatan berbaginya itu dibales sama Allah dengan tercovernya biaya S3 ke luar negeri dengan beasiswa.😱

Miss K itu orangnya asik banget, ekpresif banget, humble, bisa memposisikan diri sebagai teman, supportive, suka bercanda, tapi tegas pun bisa, serius bisa.

Entah sudah berapa orang yang nanyain aku soal EE begini, “Kamu dibayar berapa?”. Akhirnya aku ceritain lah, kalau #easyenglish ini project sosial edukasi. Sejak diawali sama Miss K itu juga niatnya untuk berbagi. Jadi ya nggak dibayar, sifatnya sukarela. Sekalipun sukarela, bukan berarti terus aku sak karepe dhewe 😑. Sesuai kesepakatan di awal, kalau hari Jumat ya harinya #easyenglish.

Miss K ngasih aku wadah untuk bereksperimen dengan videoku, mengasah skill-ku melalui EE. Bisa dilihat kok itu dari video EE awal-akhir. Beda banget. Nggak cuma belajar untuk ngebuat video lebih baik lagi, tapi juga ngebuat aku belajar untuk berbagi, belajar konsisten & persisten terhadap passionku dan punya impact for the society. That’s more precious than money.

Dari kenal sama Miss K dan EE, kemarin mulai dapet pesenan video dari temennya Miss K, bisa dapet kesempatan untuk ngisi ilustrasi bukunya Miss K (#EasyEnglish Part 2), juga sempet ada yang minta tanda tanganku sebagai video-maker-nya EE (ini nggak penting sih..😆). Yaa.. ini sebagian dari edisi berkahnya #easyenglish, menurutku. Dan tentunya itu nggak terlepas dari peran Miss K di dalamnya. That’s why, I adore her and respect her.

IMG_20160310_184304
Kemarin, terakhir ketemu Miss K sebelum berangkat ke Jerman, aku dikasih jam. Katanya biar tiap waktu inget dia. Bahaha.. Kalau begini nggak cuma inget, tapi seluruh value yang aku dapet juga inget. Obrolan di warung lotek pun aku masih inget 😂. “Kalau kamu punya mimpi, pegang itu terus; konsisten; kalau perlu nazar; dan cepatlah move on!”, gitu katanya.

Teriring doa selalu untuk Miss K 😘.. Keep inspiring.. Keep charming.. Dan tetep kecee!

DUA LIMA

Kemarin aku baru ikut acara sharing beasiswa LPDP dari para awardee. Pulangnya, aku dapat brosur ini. Dan yang menarik perhatianku adalah soal rumah baca.
IMG_20160209_154136
IMG_20160209_154204
Sepanjang perjalanan pulang, aku tiba-tiba terpikir untuk menunaikan sesuatu yang seharusnya aku lakukan bulan kemarin. Bulan kemarin umurku bertambah, dan aku pengen melakukan sesuatu yang beda aja. Terlalu mainstream kalau hanya mentraktir teman. Waktu itu aku juga belum tahu ingin melakukan apa tepatnya. Dan ketika aku membaca brosur itu, that’s it. I know what I’m gonna do.

Jadilah ini untuk rumah baca..
IMG_20160209_225224
Ah yaa.. Ini nggak seberapa memang. Dan ini ada sumbangan dari temenku juga. Tetapi suatu hari nanti, aku pengen membuat rumah baca. Sementara sekarang belum memungkinkan, ya aku pikir gimana kalau support aja rumah baca yang ada. Sama aja kan ya? 😀

Bagiku, sebuah hal yang menyenangkan ketika melihat orang-orang membaca buku. Apalagi kalau mereka kemudian menemukan sebuah cara pandang baru dari buku-buku tersebut. Atau bahkan mereka berani untuk menembus batas, beyond their imagination. Bahkan seorang Andy F. Noya saja mengaku bahwa buku yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali mempengaruhi hidupnya. Betapa dahsyatnya buku itu kan?
Screen Shot 2016-02-09 at 2.55.36 PM
Menurutku, orang yang senang membaca adalah orang yang selalu punya curiosity dan memilih untuk menjadi lifelong-learner. Karena ilmu pengetahuan dalam bidang apapun akan selalu berkembang. Lihat saja orang yang senang membaca di sekitarmu, dugaanku mereka lebih open-minded dan tidak mudah menghakimi sesuatu.

Dan sebenarnya ada sebuah pertanyaan yang selalu mengusik, “Sekian tahun aku hidup di dunia ini, apa yang sudah aku lakukan untuk orang lain?”. Aku mikir aja, seorang Andri Rizki Putra (penulis Orang Jujur Tidak Sekolah), di usia antara 22-23 sudah membuat YPAB untuk memfasilitasi mereka yang putus sekolah untuk belajar dan mendapatkan ijazah paket A, B, dan C. *nutupin kaca*

Setiap orang punya caranya sendiri untuk berbagi. Sementara, aku baru bisa berbagi buku. Mungkin di lain waktu aku juga berbagi tenaga.

BUKU ASLI VS BUKU BAJAKAN

Suatu hari ada customer yang tanya begini..
“Mas, buku X beneran ori? Bedanya ori sama kw apa ya?”, tanyanya.
“Original, buku asli dicetak legal sama penerbit yang punya hak. KW sebaliknya, ilegal..”, jawabku.
“Kertasnya gimana?”, tanyanya lagi.

Sebagian dari kita menganggap buku itu hanya sekadar kertas dan tulisan. Nggak peduli itu buku asli atau bajakan. Toh isinya sama saja. Cuma beda kualitas kertasnya. Dulu aku juga berpikir seperti itu. Begitu aku ditawari buku yang katanya bagus sama penjualnya, aku beli juga. Walaupun itu buku bajakan. Karena harganya lebih murah tentunya. Selisihnya jauh banget. Aku ditawari dengan harga 15 ribu – 30 ribu, sedangkan di Gramedia harganya antara 60 ribu – 85 ribu.

Sekarang, kalau aku mengoleksi buku bajakan, rasanya aku tidak menghargai sebuah karya. Lebih jauh lagi, artinya aku tidak menghargai jerih payah penulisnya. Aku membayangkan betapa panjangnya proses terbitnya sebuah buku hingga sampai ke tangan pembaca. Dari penulis yang mencari ide, lalu membuat naskah yang tebalnya bisa sampai beratus-ratus halaman, kemudian dikirimkan ke penerbit. Dari penerbit masih harus mengantri dulu dengan ribuan naskah lainnya. Baru kemudian diproses, dibaca, dibalikin lagi ke penulis untuk direvisi sana-sini. Penulisnya sampai kurang tidur karena dikejar deadline. Sampai masuk angin juga. O iya, ada juga proses desain cover, layout, dan ilustrasi (bila diperlukan). Ketika fixed, naskah baru dicetak. Setelah dicetak baru didistribusikan ke toko-toko buku. Baru kemudian, sampai ke tangan pembaca. Apakah ini bisa diproses hanya 1-2 hari saja? Nggak kan? Dan tahu nggak sih, penulis itu dapatnya berapa? Kurang lebih 10% dari harga jual per buku (tergantung penerbit juga).

Nah, kalau kita beli buku bajakan, yang berarti tidak dicetak sama penerbit yang punya hak untuk mencetak buku itu, berarti ada hak dari penulis yang kita abaikan. Jelas hanya menguntungkan penerbit ilegal yang mencetak itu. Sedangkan penulisnya nggak dapat apa-apa. Bayangkan kalau kita jadi penulis itu. Aku aja, cuma gara-gara foto produk yang aku jual dicrop sama orang lain, terus dipajang di tokonya, aku bisa muring-muring. Apalagi kalau beratus-ratus eksemplar yang dicetak ilegal.

Nggak ada profesi yang nggak penting di dunia ini. Semua profesi itu penting. Walaupun itu hanya petugas kebersihan. Bayangkan aja, betapa repotnya kita kalau nggak ada petugas kebersihan di dunia ini. Gimana kalau nggak ada pelukis, nggak ada asisten rumah tangga, nggak ada penyanyi, nggak ada penulis, nggak ada petani, nggak ada koki, nggak ada atlet, nggak ada tukang bangunan, dan masih banyak lagi lainnya. Apapun profesinya, menurutku bukan masalah bekennya, bukan masalah kerennya, bukan masalah gajinya, tapi apakah kita sudah berkarya melalui profesi yang kita jalani sekarang? Apakah kita sudah membuat impact for the society melalui profesi kita? Dan nggak akan mungkin kita punya dedikasi, berkarya sepenuh hati, membuat impact, kalau kita nggak happy dengan yang profesi yang dijalani. So, are you happy? Are you ready to create a masterpiece?

Buku asli atau bajakan bagiku bukan hanya sekadar masalah kualitas cetakan dan kualitas kertas. Nggak sesepele itu. Nggak seremeh itu. Tapi, apakah kita bisa menghargai karya dari penulisnya. It’s about how we appreciate writer’s masterpiece. Kalau pengen karya kita dihargai orang lain, tentunya kita yang lebih dulu menghargai karya orang lain, iya kan?

Penulis sekelas Dee Lestari juga geram akan  buku bajakan.
Penulis sekelas Dee Lestari juga geram akan buku bajakan.

THERE’S NO GRAY AREA

Belum lama ini, aku bertemu dengan orang yang sudah lama aku kenal, yang bahkan aku anggap seperti kakak sendiri, membawa serta keluarga kecilnya ke tanah Jawa. Putri kecilnya yang lucu dan chubby itu, bisa membuat kami semua melongo dengan selera makannya. Dan betul-betul putri kecil itu replika dari Ayah-Bundanya.

Beberapa waktu yang lalu aku sempat menulis tentang ethos kerja PNS yang menurutku kacrut. Dan kali ini, aku seperti menemukan sebongkah berlian. Pada suatu kesempatan bisa ngobrol berdua saja, aku rasai sebuah kekaguman muncul. Kekaguman pada sikapnya. Dia bercerita tentang lingkungan kerjanya. Beberapa kali dipanggil atasan karena dinilai terlalu saklek dengan aturan. Apalagi dia diamanati mengurusi daftar hadir. Terlalu saklek dengan aturan, membuat yang sering tidak taat aturan jadi menggerutu. Kedisiplinannya dalam menyelesaikan pekerjaan juga malah membuatnya dicemburui sesama rekan kerjanya. Tapi dia tidak gentar dengan itu. Dia tidak perlu bermuka dua untuk menyenangkan semua orang.

Aneh. Orang yang punya kinerja yang baik, bisa menjadi contoh kebaikan untuk rekan kerjanya, bisa meningkatkan performa organisasi, malah dicemburui, digerutui banyak orang. Kalau saja ada lebih banyak orang seperti dia, bukankah kinerja dalam lingkungan pemerintah semakin baik? Yaa.. mungkin begitulah jika kita memilih untuk tidak mengikuti arus. Apalagi arus yang diikuti adalah arus yang salah. Membuat arus sendiri nampaknya sebuah pilihan yang paling tepat dalam hal ini, walaupun ditentang dan dicibir oleh banyak orang. Tetapi aku percaya, kebaikan akan selalu menemukan jalannya.

Aku jadi teringat dengan Soe Hok Gie yang selalu menyuarakan kebenaran. Makin sering dia bersuara, makin banyak musuhnya. Juga tokoh Minke dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Juga Munir. Tapi kehidupan akan selalu berimbang. Makin banyak yang menentang, makin kita menemukan orang-orang yang berada di pihak kita.

Kali ini aku belajar dari dia untuk punya sikap. There’s no gray area. Nggak ada area abu-abu. Belajar memilih dengan segala konsekuensinya. Dan tidak perlu bermuka dua untuk menyenangkan semua orang. Orang-orang yang memilih untuk berada di area abu-abu, lebih mudah diombang-ambing oleh angin, berusaha menyenangkan semua orang, tapi hatinya sendiri tak pernah senang, pikirannya penuh curiga, akhirnya hanya hidup dengan penuh kekhawatiran-kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu.

“Aku tak mau jadi pohon bambu. Aku mau jadi pohon oak, yang berani menentang angin.” ~ Gie

UNTUNGNYA APA?

Tidak hanya sekali aku mendengar pertanyaan itu. Berkali-kali. Ditanyakan oleh orang yang berbeda-beda sebagai respon mereka terhadap project video yang aku kerjakan.

Ketika pertama kali aku ketemu Ms K, sejak dari rumah aku sudah memutuskan, apapun yang Ms K katakan aku akan join. Aku ngikutin EE sejak di twitter sampai akhirnya jadi segmen di radio. So, aku mengerti bahwa ini akan jadi project sosial. I believe, opportunity worth so much more than gold. Ini kesempatan untuk mengasah skill-ku. Juga, belajar banyak values dari Ms K.

Aku pun mulai meluruskan niat. Memulai dari sesuatu yang bisa aku lakukan, aku menetapkan misiku. Pertama, aku pengen banget supaya EE bisa dijangkau oleh siapa saja. Kedua, aku pengen memperbanyak digital footprint untuk EE.

Dari hal kecil yang aku lakukan, ternyata kemudian memunculkan respon-respon yang lebih positif. Satu per satu testimoni mulai masuk. Sebuah channel tv pun meminta izin untuk menayangkan video EE. Testimoni juga datang dari para pengajar yang membawa video EE ke ruang kelas. Sebuah kampus juga dengan senang hati mengoleksi video EE. Speechless tiap kali melihat semua testimoni itu. Haru. Tak jarang, air mata dengan mudahnya mengalir begitu saja. Aku bersujud lebih lama. Bukan untuk mengaduh dan mengeluh. Tapi hanya untuk bersyukur. Allah Almighty can Turn the whole thing upside down. Hidupku terasa lebih berarti. Apa yang aku lakukan ada impact-nya untuk orang lain.

Hidup ini singkat. My mom passed away at the age of 46. Aku juga tidak tahu sampai mana umurku. Aku bisa dipanggil kapan saja. Kalau aku tidak menggunakan waktuku dengan sebaik-baiknya, hanya ada sesal kemudian. Hal ini yang mungkin menjadi salah satu alasan kenapa aku tetap ada dalam project ini. Belajar berbagi, belajar untuk menjadi orang yang bermanfaat.

Aku hanya mewakafkan waktu, tenaga, dan skill. Dan itu pun kecil sekali bila dibandingkan dengan orang-orang hebat di luar sana yang melakukan lebih dari apa yang aku lakukan. Saptuari Sugiharto, membuat gerakan Sedekah Rombongan yang membantu para dhuafa yang sakit untuk bisa mendapat pengobatan yang layak. Ada @karlinakuning yang mau bersusah-payah membuat komunitas @CACjogja untuk membantu adik-adik putus sekolah supaya bisa tetap sekolah. Ada Butet Manurung yang mau-maunya masuk hutan di Jambi untuk mengajari orang-orang rimba baca tulis. Ada para Pengajar Muda yang mau dikirim ke daerah terpencil di pelosok negeri untuk mengajar dan mengabdi. Sebenarnya, mereka semua bisa memilih untuk tidak melakukan semua itu, hidup yang lempeng-lempeng aja tanpa harus ikut memikirkan masalah orang lain. But, mereka memilih sebaliknya.

Aahhh.. Ibukku sudah tidak lagi terikat urusan duniawi. Tapi, semoga ibuk mengerti pilihan-pilihanku. Dan amalku semoga bisa jadi penerang untuk beliau di sana.

One day, ketika aku punya anak, aku akan mengajari dia untuk berbagi supaya hidupnya lebih berarti.

What about the money? Let’s focus on our contribution, values, meaning, and impact. The money always follows great works.

Rene Suhardono
Quote dari buku Passion To Performance by Rene Suhardono

MEMBACA BUMI MANUSIA

Pramoedya Ananta Toer

Kemarin aku baru saja mulai membaca Bumi Manusia dari Pramoedya Ananta Toer. Aslinya, aku malas membaca tulisan yang latar ceritanya kembali ke zaman-zaman penjajahan Belanda. Menurutku itu zaman yang suram. Tapi, karena disarankan seorang teman untuk membaca tetralogi Buru ini, dan juga aku tahu dari buku #Sharing2 bahwa Pak Handry Satriago, CEO GE, juga membaca Bumi Manusia, maka akhirnya aku baca buku pertama dari tetralogi Buru ini. Pasti ada yang menarik, pikirku. Dan iya menarik. Kemarin aku mulai membaca, hari ini sudah selesai dengan buku setebal itu.

Dulu, perempuan tidak dihargai sama sekali. Hanya menjadi objek yang bisa dinikmati siapa saja yang menghendaki, bisa dijual untuk kepentingan jabatan kemudian dibuang. Begitulah yang aku dapati dari kisah Nyai Ontosoroh, dijual 25 gulden oleh Ayahnya sendiri untuk mendapatkan jabatan yang ia impikan. Nyai Ontosoroh dan keluarganya adalah pribumi. Pribumi adalah kasta paling rendah. Pribumi yang pandai baca-tulis, punya jabatan, akan dihormati dan dielu-elukan.

Minke yang bersekolah di sekolahnya Belanda, H.B.S., merutuki nasibnya yang harus merangkak dan menyembah seorang bupati, yang baru ia ketahui kemudian itu adalah ayahnya sendiri. Minke yang mempelajari ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, memprotes keras adat Jawa yang membuatnya merasa terhina.
“Sungguh, teman-teman sekolah akan menertawakan aku sekenyangnya melihat sandiwara bagaimana manusia, biasa berjalan sepenuh kaki, di atas telapak kaki sendiri, sekarang berjalan setengah kaki, dengan bantuan dua belah tangan. Ya Allah, kau nenek-moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri begini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenek-moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampaihati mewariskan adat semacam ini?” (Bumi Manusia, hal 181).

Kakak Minke, bersekolah di S.I.B.A, School voor Inlandsche Bestuursambtenaren, Sekolah Calon Pejabat Pangreh Praja Bumi. Mungkin ini cikal bakal STPDN di jaman sekarang.

Kembali ke Minke, aku melihat dia agak nakal. Dengan beraninya, dia mencium Annelies Mellema, anak Nyai Ontosoroh yang menawan hatinya, di hari pertama ia bertemu dengannya. Dan itu yang kemudian menariknya tinggal di rumah Annelies. Annelies yang begitu bergantung pada Minke, cinta mati padanya, bahkan kondisi kesehatannya bisa menurun drastis bila tidak ada Minke, membawa Minke dan Annelies dari yang terpisah kamarnya, lalu sampai tidur sekamar. Dan kemudian, ya begitulah. Nyai Ontosoroh membiarkan itu demi kesehatan anaknya. Aku tidak setuju dengan cerita pada bagian ini. Karena Minke Islam dan mereka belum menikah. Tapi kalau dipikir-pikir, aku berasumsi bahwa Islam pada zaman itu belum berkembang seperti sekarang. Jadi, banyak yang beragama Islam, tapi belum melaksanakan dengan sepenuhnya. Sewaktu membaca bagian cerita ini aku teringat film Sang Pencerah. Mungkin aku memang harus menambah bacaanku tentang bagaimana masuknya Islam ke Indonesia dan sejarah para Wali Songo dulu. Pram hanya menulis keadaan yang sesungguhnya pada zaman itu.

Minke itu seorang yang cerdas. Senang menulis. Dan tulisan-tulisannya dimuat di surat kabar. Diawali dengan cerita kekagumannya pada Nyai Ontosoroh, dengan nama pena Max Tollenaar. Kemudian tulisan-tulisannya berkembang menjadi bentuk perlawanannya pada ketidakadlian yang ia alami.

Minke yang mengelu-elukan ilmu pengetahuan dan adab dari Eropa yang ia pelajari, pada akhirnya harus dijatuhkan oleh ketidakadilan hukum Eropa. Karena dalam hukum kulit putih, pribumi tidak punya hak sama dengan orang-orang Eropa atau yang mempunyai darah keturunan Eropa. Pribumi selalu kalah, selalu ditindas.

Kemudian, cerita Bumi Manusia ini berakhir menggantung.

Aku jadi berpikir, banyak sekali peninggalan Belanda pada bangsa Indonesia. Dari bangsa yang dulu tidak mengenal pakaian, menjadi orang yang bisa berpakaian (cek kata Tuan Moreno, hal 198). Menjadi kenal yang namanya sekolah. Kenal dengan sistem pemerintahan. Dan mungkin juga kita mewarisi pandangan tentang menjadi pribumi yang terhormat. Entahlah, itu bisa jadi hanya asumsiku.

Setelah membaca Bumi Manusia, kepalaku serasa berat. Mungkin karena terlalu larut dalam cerita dan segala konfliknya. Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies, tidak pergi menghilang begitu saja dalam pikiranku. Dan masih ada 3 buku lagi. Buku kedua, Anak Semua Bangsa.

Dalam Bumi Manusia juga disebutkan Max Havelaar karya Multatuli, Eduard Douwes Dekker. Aku rasa buku ini harus aku baca juga.

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer bisa didapatkan juga di sini, buku Asli bukan bajakan ~> tokopedia.com/sentrainspirasi

Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah

KENAPA NGGAK MAU JADI PNS?

Kata Jaya Setiabudi
Tulisan Mas Jaya ini (click to view the original post) mengingatkanku pada beberapa bulan yang lalu tentang hal yang sama, yang sudah sangat mengganjal.

“Kenapa nggak mau jadi PNS?”
“Jadi PNS itu enak lho…”
“Masih bisa nyolong-nyolong waktu, kerjanya santai, dapat uang pensiun, nggak kayak kerja di swasta..”
Kurang lebih begitu beliau menjelaskan, sambil tersenyum. Sementara aku, hanya membalas beliau dengan senyuman saja, karena aku menghormati beliau. Kalau pun aku mendebat hanya akan jadi debat kusir. Aku bertahan dengan pendapatku, sementara beliau bertahan dengan pendapatnya. Dan aku malas juga berdebat di rumah orang.

FYI, beliau adalah seorang pensiunan PNS dan sudah pernah menjabat sebagai kepala dinas. Dari wajahnya yang terlihat adem itu, aku percaya bahwa beliau orang baik. Hanya saja, ethos kerjanya seperti PNS kebanyakan.

Nggak ada yang salah sebenarnya menjadi PNS ataupun karyawan di perusahaan swasta. Kalau ethos kerjanya sama dengan contoh tadi, maka akan sama saja. Mari kita coba membayangkan dulu.. Kalau satu orang, pimpinan, dalam sebuah organisasi seperti ini, bagaimana dengan anak buahnya? Semua hanya kerja asal kerja, sekadar memenuhi kewajiban, memenuhi daftar hadir.

Itu masalah? Menurutku sih iya. Lingkungan kerja yang buruk akan men-drive seseorang menjadi buruk juga. Padahal yang menggerakkan sebuah perusahaan atau organisasi adalah manusia-manusia yang ada di dalamnya. Hasilnya apa? Roda organisasi hanya akan jalan di tempat, tidak punya inovasi, dan hanya menjalankan pakem yang sudah ada. Bayangkan kalau ini terjadi pada instansi pemerintah, dari yang di bawah (daerah) sampai top level di pusat.

Kerja asal kerja, fokusnya bukan pada performa, bukan pada kinerja, bukan pada kontribusi. Akibatnya, orang-orang seperti ini hanya bekerja sekadar untuk memenuhi kewajiban, sekadar mengisi daftar hadir, yang penting bos senang. Kerja hanya didasarkan pada ketakutan pada pimpinan, bukan untuk melayani masyarakat yang merupakan tugas dari instansi pemerintah. Lihatlah, betapa hebohnya pegawai-pegawai yang ada di daerah ketika ada inspeksi dari pusat. Semuanya harus senyum, semua harus nampak baik-baik saja, semua harus kelihatan kerja, menyenangkan hati bos. Ketika bos pulang, balik lagi kerjanya ya gitu-gitu aja.

Belum lagi kalau pimpinan mengajari bawahannya nakal dengan mark-up anggaran. Staf yang di bawah hanya semakin hidup dalam ketakutan dengan ancaman dari pimpinannya. Awalnya masih takut-takut, tapi lama-lama mentalnya terbentuk seperti itu juga. Awalnya masih takut untuk menyuap, lama-lama bilang, “Jaman sekarang nggak bisa kalau nggak pakai duit.”Terjadilah korupsi berjamaah. Mungkin dulu pas awal-awal jadi PNS punya idealisme tinggi, karena lingkungan kerja yang kayak gitu, lama-lama idealisme tergerus juga. Ibarat singa, dipimpin sama kambing, jadilah singa itu singa yang mengembik bukan mengaum. Bukannya semakin menunjukkan performa, bukannya semakin menunjukkan profesionalisme di bidangnya, malah semakin meredup, semakin stres. Akhirnya, kerja hanya sekadar kerja, untuk sekadar makan, yang penting aku dan keluargaku hidup dan selamat.

“Kalau hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup! Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja!,” kata Buya Hamka.


Manusia dengan segala kelebihannya tentu diamanati Tuhan tugas yang lebih besar dibandingkan dengan babi hutan dan kera. Terlalu egois bila manusia hanya berpikir tentang dirinya sendiri dan keluarganya saja. Dan tampaknya Tuhan sangat mengerti itu dengan memberikan fitrah pada manusia untuk berkontribusi pada sesama, memberikan manfaat pada sesama. Melalui apa? melalui karya yang dihasilkan dari keunikan tiap pribadi. Percayalah, bukan harta yang banyak yang menjadikan orang itu bahagia, melainkan apa yang bisa kita berikan untuk orang lain melalui kontribusi kita, melihat orang lain tersenyum dengan karya kita, dengan apa yang kita perbuat. Dan kontribusi kita, kepedulian kita pada masalah-masalah yang ada pada lingkungan sekitar, akan lebih powerful kalau kita berada pada lingkungan ataupun organisasi yang sejalan dengan misi kita. Kita secara pribadi akan happy, organisasi happy, society juga happy.

Sudahkah organisasi di pemerintahan bisa mengakomodasi kebutuhan setiap individu untuk berkarya dan berkontribusi? Tampaknya perlu perombakan besar-besaran dari pusat hingga level daerah. Tapi satu hal yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan menemukan pemimpin organisasi yang berintegritas, open-minded, menjadi teladan, namun tidak mudah digoyahkan oleh tekanan-tekanan dari pihak-pihak lain. Kenapa harus pimpinan? Karena top level lah yang punya kuasa membuat aturan. Kalau pimpinan punya leadership yang bagus, membawa budaya kerja yang bagus, anak buahnya juga akan seperti itu. Singa yang dipimpin singa akan semakin menjadi singa, dan kambing yang dipimpin oleh singa akan berkepribadian seperti singa.

It’s just a thought.