Belajar Mengukur Kecepatan dari Semut?

Bagaimana cara kita diajari tentang konsep kecepatan dulu sewaktu di sekolah? Ingatanku membawaku pada ruang kelas dan buku pelajaran. Lalu, aku disajikan dengan gambar, dua titik yang dihubungkan dengan garis. Titik merupakan simbol perpindahan kendaraan dari tempat A menuju tempat B. Sedangkan garis adalah sebagai bentuk simbolisasi jarak yang ditempuh kendaraan tersebut. Selebihnya, aku hanya diminta membayangkan dan membayangkan untuk memahami pelajaran.

Berbeda sekali dengan apa yang aku amati di Sekolah Alam Bengawan Solo. Saat itu aku berada di kelas bersama fasilitator dan beberapa siswa kelas 5. Fasilitator memberikan tugas kepada siswa untuk mengukur kecepatan. Dengan apa? Semut. Jadi, tugasnya adalah siswa diminta untuk mencari semut dan mengukur jarak yang ditempuh semut untuk berjalan selama sepuluh detik. Dari data yang diperoleh tersebut, siswa dapat mengukur kecepatannya.

I was so amazed by that simple assignment using everything surrounds us. Aku sama sekali tidak pernah terpikir menggunakan semut untuk memahami konsep itu. Biasanya kita selalu menggunakan kendaraan sebagai contoh. Kenapa tidak menggunakan kendaraan? Karena tidak memungkinkan bagi siswa kelas 5 SD untuk mengendarai kendaraan.

Lain lagi dengan siswa kelas 6. Mereka diberi tugas untuk membuat layang-layang. Jadi, mereka memulai dari proses memotong bambu, menghaluskan, menali, mengelem, hingga terbentuklah layang-layang. Apakah berhenti hanya sampai di situ? Nggak. Setelah layang-layang tersebut jadi, siswa diminta untuk membuat laporan tentang prosedur pembuatan layang-layang, mengukur luasnya, dan menggambar bentuknya. Setelah tugas tersebut selesai, mereka berlari ke lapangan untuk menerbangkan layang-layang yang mereka buat.

Bagaimana dengan kelas 1? Siswa kelas 1 pada waktu itu aktivitasnya adalah membakar lele. Mereka diberi tugas untuk membersihkan hingga membakar lele tersebut. Di sela-sela membersihkan lele, fasilitator mengingatkan kembali siswa pada bagian-bagian tubuh ikan.

Itulah beberapa hal sederhana yang aku amati di sekolah tersebut. Bila ditarik benang merahnya, aku melihat mereka menggunakan benda-benda di sekitar untuk belajar. Benda-benda yang bisa dilihat, dipegang, dan dirasakan. Tentu sebelum melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, aku kira mereka sudah mendapatkan materi pendukungnya. Belajar di luar kelas dan menggunakan media alam untuk belajar adalah hal biasa bagi mereka, tapi tidak bagiku sewaktu aku seusia mereka. Bagiku belajar di luar kelas adalah hal yang eksklusif, malah seingatku guruku tidak pernah melakukan itu.

Belajar dengan guru menerangkan di depan kelas hanyalah tahapan awal dari proses belajar. Pada saat itu, murid hanya mendengarkan, mengingat, dan kemudian lupa. Kenapa lupa? Karena mereka belum diberi kesempatan untuk merasakan. Experiencing. Aktivitas itu sangat membantu sekali dalam membantu murid memahami materi. Apalagi bila dikemas dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan, seperti contoh aktivitas yang aku ceritakan di atas. Dengan begitu, murid akan mengingat momennya. Materi pun akan jadi sesuatu yang memorable karena mereka sendiri bisa mengamati, melihat, memegang, dan merasakan. Jadi, levelnya naik dari “aku tahu” menjadi “aku bisa dan aku paham”.

Aku jadi ingat dengan cara belajarku selama sekolah yang lebih sering berada di dalam kelas dengan guru menerangkan di depan. Guru menerangkan, memberi soal untuk latihan, kemudian ujian sebagai bentuk assessment. Pelajaran fisika, kimia, matematika, biologi menjadi pelajaran membayangkan hal abstrak. Masuk laboratorium pun bisa dihitung dengan jari selama aku sekolah. Itu pun tiba-tiba jadi ada kegiatan praktikum karena besoknya digunakan sebagai ujian praktik sekolah. Praktikum hanya menjadi kegiatan tambahan bukan utama. Jadi, selama ini cara belajarku sebagian besar pasif. Wajar kalau kemudian aku lupa.

Aku jadi bertanya, apakah memang sekolah selama 12 tahun, dari SD hingga SMA, dipersiapkan hanya sampai tahap transfer pengetahuan? Yang artinya memang dipersiapkan hanya sampai tahap mengingat (remembering) yang merupakan tahapan paling bawah dari proses belajar. Mengingat berarti tidak perlu berpikir. Tahapan berpikir aku rasa hanya bisa diperoleh ketika murid diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas. Dari situ mereka bisa belajar menganalisa. Setelah mereka bisa menganalisa, tahap selanjutnya adalah creating, entah itu dalam bentuk karya atapun project.

12 tahun bukan waktu yang sebentar. Apakah memang selama ini kita dipersiapkan menjadi orang-orang yang tidak berpikir? Bagaimana kita bisa berkarya bila selama ini guru tidak memfasilitasi murid untuk mengeksplorasi materi yang dipelajari dengan aktivitas yang menyenangkan?

Well, that’s my questions. Aku bukan guru, bukan pengajar, aku mengamati. I do care about education. It would be nice to have a discussion about that. So, what do you think about education? Let me know your opinion about that in the comment section below.

*****

Bagaimana aku bisa berada di Sekolah Alam Bengawan Solo? It’s another story. Aku sedang membantu temanku untuk menyelesaikan tugas akhirnya berupa film dokumenter tentang pendidikan. Sayangnya aku pun lupa untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang aku sebutkan di atas. Jadi, harus menunggu filmya rampung dulu untuk bisa melihat kegiatan-kegiatan di sana.

Ini tampilan Sekolah Alam Bengawan Solo.


Ini beberapa foto behind the scene.

IMG-20170207-WA0010IMG-20170207-WA0004IMG-20170207-WA0006

(Photos by: Dewi Rahmawati)

I Wanna See The Result Now!

“Kami ingin melihat hasilnya sekarang! Sekarang juga!”, society said.

Sebagian besar masyarakat kita berpendapat seperti itu, ingin melihat hasil tanpa peduli soal proses. Budaya instan. Entah dari mana budaya itu datang. Sungguh berbahaya menggunakan itu sebagai prinsip hidup. Kita telah melihat sendiri berita-berita soal kampus abal-abal dan mahasiswanya yang bahkan juga tidak tahu apa mata kuliah favoritnya, tahu-tahu wisuda. Cerita lain misalnya, para orang tua yang takut sekali akan masa depan anaknya hingga kemudian mencari kenalan orang dalam untuk menjaminkan anaknya supaya bisa berkuliah di kampus tersebut. Jual beli ijazah ataupun mencari kenalan orang dalam itu nyata, bukan dongeng. Dan kita hidup di tengah-tengah arus itu. Sungguh, ini bisa membawa kita menjadi orang-orang yang licik.

Aku yang sedang berusaha menikmati setiap level proses yang aku jalani, kadang merasa panas dan jengkel dengan pendapat seperti itu. It’s like a pressure. And recently, I complained a lot. Because I didn’t get what I expect. And it made me so sensitive.

***
Jumat kemarin, aku ke solo untuk melihat pameran desain grafis. Banyak jenis desain yang dipamerkan, seperti tipografi, ilustrasi, logo, motion graphic, penerapan desain ke beberapa media, juga UI design. Selain pameran karya, ada juga cerita alur pembuatannya. Sewaktu aku melihat itu, satu hal yang tidak aku sangka adalah mahasiswa DKV juga menggunakan proses tracing dari foto untuk membuat karya. Tracing foto itu menjiplak foto untuk kemudian diproses menjadi karya baru. Pada saat awal aku belajar desain, aku juga menggunakan cara tracing, dan aku merasa hina sekali menggunakan cara itu. Then I realize, it’s not a mistake. Aku tidak perlu merasa rendah dengan menggunakan cara itu.

Di pameran itu juga ada sesi creative sharing yang menghadirkan tiga pembicara, Widya Rosena, Kristian Nico, dan Solechan. Waktu sesi tanya jawab, aku mengangkat tangan (biasanya aku mikir seribu kali untuk bertanya). Aku bertanya kepada Mas Nico tentang berapa lama prosesnya dari pertama kali mengenal desain hingga mempunyai usaha sendiri dan punya karyawan. Ia bercerita kurang lebih sudah 7 tahun ini menekuni desain. Diawali dari tahun 2010 dan mulai serius sejak 2012. Ketiga pembicara tersebut juga bercerita tentang bagaimana mereka dulu juga mengalami momen “nggak dibayar”. Mereka juga menekankan tentang pentingnya menjalani semua dengan hati. Kalau ada revisi desain, ya dikerjain aja, nggak pake “mutungan”, kurang lebih begitu kata mas Solechan.

Sepulang dari Solo, aku baca tulisannya Ms.K.


Level persistennya itu lho.. Gilak! Dan aku merasa segala yang aku keluhkan kemarin remeh. Sangat remeh. Level persistenku belum selevel sama Ms.K. Tabik, mbak Karlin!

***

Ketika aku mikir lagi, I think I am not bad at all. I’ve been progressing.
2014: kali pertama belajar nggambar dari tracing foto
2015: mulai paham adobe illustrator, belajar flat design, juga motion graphic
2016: mulai dapat pesenan video (walaupun belum kontinu), ngisi ilustrasi buku, dari flat design lanjut belajar painting di photoshop
2017: dapet kesempatan sharing di kelas, 2 bulan kerja sama orang, belajar painting landscape dan karakter

Well, semua proses belajar masih berlanjut. Untuk menjadi piawai perlu latihan selama 10.000 jam, begitu kata Malcolm Gladwell. Maka, itu membutuhkan waktu 3 – 10 tahun untuk mencapai titik terbaik, tergantung seberapa sering latihannya.


Kita lihat misalnya, Joey Alexander. Tahun 2016, kita dihebohkan dengan berita Joey, anak Indonesia, yang masuk nomisasi Grammy Awards dalam kategori Best Improvised Jazz Solo. Yang lebih menghebohkan, usia Joey baru 12 tahun. Jelas, Joey bukan anak kemarin sore yang baru pegang piano.

Sejak usia 6 tahun dia berlatih piano hingga mengeluarkan album pertamanya, My favorite Things, di tahun 2015. Perhatikan deh, pada 2015 ia berusia 12 tahun. Jadi, ada jarak 6 tahun dari awal ia berlatih piano hingga mengelurkan album pertamanya. Dan bahkan aku berpikir, sebenarnya Joey sudah mendapatkan stimulasi sejak dini, sebelum 6 tahun. Karena orang tuanya Joey senang mendengarkan musik Jaz. Dan selama 6 tahun itu, selain berlatih, Joey juga tampil di beberapa event dan bertemu musisi-musisi besar di bidang Jaz. Jadi, lingkungan Joey sangat mendukung sekali untuk ia bertumbuh.

Sekali lagi semua memang perlu proses. Tidak mungkin kita bisa menikmati lampu yang terang benderang seperti sekarang tanpa jasa Thomas Alva Edison yang konon melakukan percobaan hingga 1000 kali.

And the last, I say it to my self, “Live your life, Er!!”.

Bacaan menarik:
Katalog Pameran Desain Grafis: bit.ly/katalogbehind
Joey Alexander: https://en.wikipedia.org/wiki/Joey_Alexander
Malcolm Gladwell’s Rule: http://voices.nationalgeographic.com/2012/08/14/malcolm-gladwells-10000-hour-rule-visualized-practice-makes-perfect/

KEMAUAN BERKARYA DAN SISTEM PENDIDIKAN

Kemarin, ketika aku menonton film dokumenter tentang deforestasi di Indonesia yang disiarkan oleh Showtime, ada satu hal yang membuat aku merasa miris. Kenapa aku harus menonton dokumenter sebagus ini dari channel luar negeri? Kenapa bukan channel tv nasional yang menyiarkan itu? Sementara dunia internasional melihat kasus deforestasi di Indonesia, orang-orang kita sibuk menonton sinetron yang menyajikan cerita perebutan harta warisan, anak tertukar, perebutan pacar, geng motor, dan banyak lagi lainnya. Atau, kontes menyanyi dangdut yang jurinya malah ribut sendiri, bahkan menyerang pribadi dari masing-masing juri. Atau, sibuk menonton drama yang di-import dari negara lain. Kita terlalu lelap dengan tayangan-tayangan seperti itu.


Jika kita lihat industri sinetron saja, paling ya nama-nama itu saja yang sering muncul di setiap credit berbagai sinetron. Ini baru industri sinetron lho. Bagaimana dengan bidang-bidang yang lain? Ya memang kalau kita melihat industri televisi, tentu banyak kepentingan di sana. Tapi, satu hal yang ingin aku soroti adalah, jangan-jangan kita sebenarnya kekurangan orang yang bisa dan mau membuat konten? Jangan-jangan kita kekurangan orang yang produktif dan mau berkarya?

Indikasi lainnya adalah, banyak yang memilih sebagai pekerja dan berhenti di level itu saja. Artinya, ya hanya menjalankan kewajiban, menjalankan tugas dari atasan, menerima gaji, dan sudah begitu saja setiap hari. Misalnya saja, seorang guru, pengajar, atau dosen memang bekerja untuk institusi tertentu. Tapi yang kemudian jadi pertanyaan adalah, berapa banyak buku yang sudah Ia tulis, berapa banyak tulisannya yang dimuat di media cetak, berapa banyak publikasi ilmiah yang telah dimuat di jurnal? Itu bedanya level pekerja dengan orang yang berkarya.

Semua hal di dunia ini memang tidak terjadi begitu saja, tapi melalui proses. Nah, kaitannya dengan hal ini, aku melihat pendidikan punya andil besar dalam mendorong orang untuk berkarya. Masalahnya adalah, sistem pendidikan kita ternyata belum mengambil peran itu. Seingatku, sejak pendidikan dasar hingga tingkat menengah, aku jarang membuat karya atau produk, kecuali pelajaran kesenian. Penilaian terhadap keberhasilan belajar seorang anak lebih ditekankan pada nilai-nilai ujian di atas kertas. Di akhir tahun ajaran pun, tidak ada pameran produk yang merupakan karya dari siswa.

Mengapa Kemampuan Berkarya itu Penting?
Karya atau produk bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar seorang anak. Dengan berkarya, anak secara tidak langsung akan belajar untuk menganalisa, melatih proses berpikir kreatif, dan memecahkan masalah. Di dunia yang penuh masalah dan begitu kompleks ini, kemampuan-kemampuan tadi akan sangat dibutuhkan. Ketika dewasa, mereka akan menjadi orang-orang yang tidak hanya tahu berbagai informasi, tapi juga bisa mengolah informasi yang diperoleh menjadi sebuah produk yang berguna untuk masyarakat.

Lalu, Posisi Kita Ada Di mana?
Kurikulum nasional mungkin memang belum sampai pada tahapan ini. Tapi, sudah ada beberapa pihak yang mendirikan sekolah yang mempunyai kurikulum yang berbeda, yang lebih memanusiakan dan ramah anak. Mereka inilah yang justru tergerak untuk mendorong anak memiliki kemampuan-kemampuan tadi. Selain sekolah, ada keluarga-keluarga yang menerapkan homeschooling. Salah satu cara penilaian dalam homeschooling adalah dengan membuat portofolio karya.

Hasil Pengamatanku terhadap Konten Youtube
Pembuat konten di youtube dari Indonesia mulai merangkak naik. Tapi, konten-konten yang banyak penontonnya masih terbatas pada konten parodi, komedi, atau yang kontroversial. Kita perlu membuat beragam konten. Kita juga perlu memperbanyak pembuat konten, terutama konten edukasi. Di satu sisi, kita memang belum terbiasa untuk menggunakan internet sebagai sumber belajar. Bukan berarti tidak bisa, tapi memang perlu proses. Kita sedang dalam proses beradaptasi dengan hal itu. Kita memang masih lebih banyak mencari konten hiburan (entertainment) dibandingkan konten edukasi. Menjadi sebuah PR tersendiri bagi kita untuk bisa menggabungkan konten hiburan dan edukasi menjadi edutainment.

Konten edukasi produksi National Geographic

Jika makin banyak pembuat konten, makin banyak pilihan yang kita punya. Sehingga yang tersaji tidak hanya konten yang buruk, tapi juga banyak konten yang bagus dan bermanfaat. Tinggal bagaimana kita bisa memilih dan memilah itu.

Jadi, kita tidak hanya berhenti pada level masyarakat konsumtif dan penuh komplain tapi menjadi masyarakat yang berkarya dan ikut mengambil peran untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Daftar Bacaan:
Chatib, Munif. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa, 2015
Firdaus, Andrie; Setiawan, Bukik. Bakat Bukan Takdir. Tangerang: Buah Hati, 2016
Griffith, Mary. Home Schooling: Menjadikan Setiap Tempat sebagai Sarana Belajar. Bandung: Nuansa, 2012
Sumardiono. Apa itu Homeschooling?. Jakarta: Panda Media, 2014

Menembus Batasan Belajar Konvensional

Selama ini kita memahami bahwa belajar didefinisikan dengan duduk di kelas dan mendengarkan guru yang sedang menjelaskan di depan siswa. Sebaliknya, segala hal yang dilakukan di luar kelas itu bukanlah proses belajar, membuang waktu, dan merupakan hal yang tidak berguna. Tidak mengherankan kalau lingkungan kita sangat mengelu-elukan patokan akademis.

Membuat pilihan yang tidak lazim dalam belajar, membawa konsekuensi bahwa aku harus siap belajar dari mana saja dan siapa saja. Mulailah aku membeli buku-buku yang mendukung, ikut kursus (yang tidak memuaskan), dan berakhir dengan belajar dari video-video di youtube. Video yang aku tonton pun tidak aku batasi hanya yang berbahasa Indonesia. Bahkan sebagian besar yang aku tonton menggunakan pengantar berbahasa Inggris. Kenapa? Karena menurutku ilmu yang paling update masih dari luar negeri. Dan, kalau kuliah di luar negeri kan ya bahasa pengantarnya bahasa Inggris bukan Indonesia. (Ya, ini tergantung kuliah di negara mana sih.) πŸ™‚ Wkwkwkwkw

Karena bidangku merupakan bidang kreatif, aku juga akhirnya mengikuti video-video dari youtube Adobe Creative Cloud dan juga twitch.tv/adobe . Beberapa kali nonton streaming-nya, dan ketemulah satu ilustrator yang menggunakan photoshop untuk menggambar. Aku sungguh mendapatkan pencerahan. Namanya, Syd Weiler (@SydWeiler). Aku mulailah follow twitternya. Dan makin hari, makin banyak ilustrator (sekaligus animator) yang aku follow. Jadi, timeline twitterku banjir artwork.

Melihat karya orang lain yang mengagumkan, karena rasa penasaran, aku mulai memberanikan diri untuk bertanya (in English). Karena yang aku follow sebagian besar tinggal di luar negeri.
I okt

Jadi ketagihan untuk mention. (Bancakan dulu karena ganti nama, wkwkwwk)
I Dec A

Dapat kata kuncinya, wave warp. Wave warp itu salah satu efek di After Effects.
I Dec B

Ini malah, aku dijelasin detailnya. Baik banget yak..
I Dec C1
I Dec C2
I Dec C3
I Dec C4

Dari hal ini, aku belajar bahwa aku bukan hanya warga negara Indonesia, tapi juga warga dunia. Jadi, aku bisa terkoneksi dengan siapapun di dunia ini. Guru itu tersebar di manapun, di seluruh dunia.

2 tahun lebih aku terbiasa (atau dibiasakan keadaan) mencampur bahasa Inggris dan Indonesia walaupun hanya dalam chat, ternyata ada gunanya. Itu hasilnya, berani bertanya dalam bahasa Inggris. Dan sekarang, sometimes I produce english automatically in daily conversation. Walaupun hanya satu atau dua kata, atau satu atau dua kalimat itu sudah dikeluarkan secara otomatis. Jadi, belajar bahasa Inggris tidak lagi untuk nilai, tapi untuk komunikasi. Dan aku selalu berimajinasi mendapatkan klien dari luar negeri. Bagaimana aku akan berkomunikasi kalau bukan dengan bahasa Inggris, kan nggak mungkin juga dengan bahasa perasaan. Wkwkwkwkwk πŸ˜€

2 tahun berlalu ketika aku membuat pilihan yang tidak lazim itu. Sebagian masih menganggap aku stagnan. Tapi, yang aku dapat malah sebaliknya. Dari gambarku yang aneh, sampai sekarang menurutku lebih punya nilai jual. Dari yang nggak ngerti apa-apa soal animasi, jadi ngerti ada motion graphic juga, dan berteman dengan After Effects. Jadi, apa yang aku lakukan selama 2 tahun ini? Illustrating and animating. Dan, sudah hampir sebulan aku bergabung dengan BomberStudio.co , yang cocok sekali dengan apa yang aku tekuni selama 2 tahun ini. It’s a new adventure and a new challenge. Aku sebulan ini masih beradaptasi dengan work load yang baru. Dan jujur, masih keteteran. Makanya, rencana untuk membuat video-video tutorial di channel youtube-ku harus ditunda dulu. But, I’ll figure it out.

Ini karakter-karakter yang aku buat untuk Bomber Studio. More and more characters to go..

A video posted by Eria Arum (@eriaarum) on


Aku belajar bahwa seluruh alam raya ini adalah kelas dan gurunya bisa di mana saja. Menariknya, aku mulai belajar karena rasa penarasan. Sebagian besar kelas yang aku ikuti ada di youtube. Aku juga belajar dari klien. Bahkan aku sekarang tahu bahwa twitter masih bagus sebagai media untuk bertanya dan berinteraksi. Dan sekarang aku punya tempat belajar juga di Bomber Studio, dibayar pula. How couldn’t I be more grateful than this.

πŸ™πŸ™

The Beginning of Sharing Episode

When I watched Bill Gates gave his speech at Harvard University and Steve Jobs gave his speech at Stanford University, I was thinking that maybe someday I will be given a chance to share what I have learned in doing my passion, in a place that I’ve never expected before, a campus.

What we think is what we believe. Then, it will become what we get. On November 25, 2016, I was invited by Miss Mega Wulandari who is a lecturer of English Language Education Study Program at Sanata Dharma University, to share about video making and audio mixing. She teaches Language Teaching Media, a subject that gives insight for the students how to teach using conventional to high-technology media. At the end of this semester, the students are given an assignment to make a simple video as one of the teaching methods.

Using #EasyEnglish video as the reference I shared what I’ve learned in making it. And of course, the video will not complete without a voice over and some background musics. That’s why, I also shared about Audacity for recording and audio mixing. And after that class, I’ve been thinking, I want to upload some tutorial video about the basic guide of Audacity on my youtube channel, so it can be accessed by everybody. Sounds interesting?😝
sharing3
sharing4

She was so excited.
She was so excited.

Standing in front of the class doesn’t mean that I’m an expert. I am a beginner as well. It’s a reminder that I should learn more, so I can share more. Helping others with what I learned, makes me happy.

Thank you Miss Mega for giving me a chance and thanks for taking those pictures. Definitely, I couldn’t do that without you.πŸ˜†πŸ˜˜ That was an honour and so priceless.

When that day came, I was excited. But, there is someone abroad who seemed more excited than me. Thank you for always believing and supporting me to reach what I’ve been dreaming. I wouldn’t reach this step, if I never met her.πŸ™

Met Da-mi Park (Puuung)

Met Da-mi Park (Puuung)

Dami Park Puuung in Indonesia
Namanya Da-mi Park, atau lebih dikenal dengan Puuung. Usianya baru 24 tahun. Dialah ilustrator buku Love is… So, what is the book about? Kamu tidak akan menemukan paragraf-paragraf panjang dalam buku ini. The illustrations explain us about everything.

Ilustrasinya sekeren apa sih? Cek deh video ini..


.

Sweet? Heart-warming? Definitely.

.

Selama talkshow kemarin, Puuung didampingi penerjemah. Karena dia cuma lancar berbahasa Korea. Dia berkuliah di jurusan animasi. Awalnya dia menggambar karena tugas kuliah. Namun, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, apa yang membuat dia bahagia. Kemudian, ia memutuskan untuk menggambar paling tidak satu hari satu gambar untuk dirinya sendiri. Hingga muncul ide tentang Love is… tersebut. Ia memperoleh inspirasi dari kehidupannya serta orang-orang di sekitarnya. Pada mulanya, ilustrasinya justru malah lebih dulu dikenal oleh orang-orang di luar Korea. Setelah jadi buku, dan masuk dalam drama Korea “W”, baru bukunya booming di Korea. Dan ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia untuk meet and greet dan book signing.

.

Kemarin juga ada sesi live sketching. Jadi, Puuung membuat sketsa gambar dalam waktu 20 menitan.

Puuung Live Sketch

Melihat Puuung menggambar, aku mulai bisa berdamai soal garis. Ya. Aku memang sering jengkel ketika garis yang aku buat nggak sesuai harapan. Menurutku, lantai itu garisnya harus lurus, termasuk tembok, juga pagar. Tapi, ngelihat gambarnya Puuung, dia seperti nggak khawatir soal garis yang nggak lurus. So, I am trying to ignore the imperfect lines. πŸ˜€

A photo posted by Eria Arum (@eriaarum) on


.

Beberapa hari sebelumnya, aku membuatkan dia fan art karakter-karakter dalam bukunya. Dalam batinku, aku harus ketemu dia. Aku harus ngasih ini ke dia. Dan jadilah, aku cetak dan nyari bingkai. Aku pikir nggak perlu gede-gede. Supaya gampang dibawa kan ya… Mission accomplished. Aku tempelin kartu namaku di belakang bingkainya. I said, “I wanna give you this.” Dan, ketika dia menerima itu, mimik mukanya itu kayak terharu gimana gitu. Dari wajahnya, kayaknya dia bilang, “ooohhh wow… aku nggak pernah nyangka bakal dapat kado kayak begini.” Dia mengucapkan terima kasih berkali-kali. Aku pada akhirnya cuma bisa bilang Thank you, karena aku nggak ngerti gimana ngomong dalam bahasa Korea dan dia juga nggak lancar bahasa Inggris (aku pikir dia paham, hanya nggak bisa ngomongnya). Lengkap sudah. Selain aku, ada beberapa orang yang ngasih kado berupa gambar juga ke Puuung. Sepertinya memang ada beberapa mahasiswa jurusan seni di event kemarin.

Dami Park Puuung in IndonesiaDami Park Puuung in IndonesiaP4

Dia agak pemalu, tapi jangan ditanya kalau lagi nggambar. For me, she is awesome. Punya karya yang mendunia pada usianya yang cukup muda. I adore her.

What’s Your Legacy?

Baru-baru ini, kita dikejutkan dengan kabar berpulangnya Mike Mohede di usianya yang cukup muda. Aku bukan fans beratnya, tapi entah kenapa aku merasa kehilangan. Aku mengenal Mike dari lagu-lagunya. Apakah Mike mengenalku? Sedikitpun tidak.

***

Sekian bulan yang lalu,Β aku mengkhatamkan tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer. Jelas, aku tidak hidup pada zamannya Pram. Tapi sampai hari ini aku masih bisa merasakan idealismenya dan juga amarahnya pada ketidakadilan melalui buku-bukunya. Betapa banyak orang ikut berkobar jiwanya ketika membaca bukunya Pram.

***

Beberapa tahun yang lalu, aku dikenalkan dengan sosok Soe Hok Gie oleh temanku melalui film. Sejak saat itu, aku haus akan hal-hal yang berkaitan dengan Soe Hok Gie. Melalui tulisan-tulisannya, ia mempunyai peran dalam menggulirkan roda pemerintahan pada saat itu. Anak muda idealis yang juga kadang merasa sepi dalam perjuangannya. Bayangkan bila Soe Hok Gie tak pernah menulis. Tak akan ada catatan hariannya yang diterbitkan, filmnya tak pernah ada, aku pun tidak akan mengenalnya.

***

IMG_20160815_060731

Akhir-akhir ini aku tertarik dengan buku-buku biografi. Aku tengah membaca biografi Steve Jobs kali ini. Awalnya aku hanya pengguna salah satu produknya, lalu menonton filmnya, kemudian membaca biografinya. Steve Jobs mempunyai andil besar dalam perkembangan teknologi. Ketika aku membaca biografinya, aku bersyukur karena ia mengenalkan komputer dengan tampilan grafis untuk pertama kalinya pada komputer Lisa dan Macintosh, yang itu merupakan awal dari tampilan komputer yang digunakan hingga sekarang. Tanpanya, komputerku saat ini hanya akan berlayar hitam dengan font hijau menyala. Sekalipun ia telah tiada, inovasi-inovasinya tetap hidup hingga sekarang.

***

Suatu hari, aku termenung ketika mendengarkan radio. One of my teammate (also friend and my role model), untuk sementara waktu berada di luar negeri untuk menggenapkan studinya. Aku begitu termenung ketika aku setiap hari masih bisa mendengarkan suaranya di radio, aku bisa dengan leluasa membaca buku-bukunya, dan program-program sosial yang sejak dulu ia rintis masih berjalan dengan baik hingga detik ini. Betapa banyak orang yang tidak dikenalnya tersentuh dampak positif atas apa yang dilakukannya. Walaupun untuk sekian tahun dia berada di luar negeri, tetapi dia telah meninggalkan sesuatu untuk negeri ini. Ketika aku memikirkan itu, dalam diamku, aku begitu takjub padanya.

***

Legacy: something (such as property or money) that is received from someone who has died – Merriam-webster.com

.

Bicara soal legacy, yang dalam bahasa Indonesia berarti warisan, seringkali disempitkan artinya dalam bentuk harta. Betapa seringnya (mungkin perasaanku saja) orangtua hanya sibuk membagi-bagi harta untuk anak-anaknya, entah mungkin supaya tidak saling bertengkar, tapi lupa untuk mewariskan sesuatu yang lebih abadi daripada itu.

.

Mereka yang aku ceritakan tadi mewariskan sesuatu yang lebih abadi daripada harta, yaitu karya dan manfaat. Sebagian besar dari mereka tidak mengenalku, bahkan mereka hidup sebelum aku ada, tapi aku mengenal mereka melalui karyanya, pemikirannya, dan inovasinya. Mereka bergerak menembus zaman.

.

Sebenarnya soal legacy ini sudah mengendap sekian bulan di kepalaku. Tapi ketika Mike Mohede berpulang, kembali aku bertanya, “What’s my legacy then?” Apakah aku akan membeli rumah, tanah, menumpuk harta kemudian sibuk membagi-bagikannya kepada keluargaku suatu hari nanti? Atau melakukan hal lain?

.

Maka, kesimpulanku soal legacy, seharusnya tidak disempitkan artinya pada harta. Karya dan manfaat adalah warisan yang menembus ruang, waktu, dan generasi. Ia akan tetap abadi. Walau sang pemilik nama telah mati, akan ada yang mencoba untuk menghidupkannya kembali.

.

What’s your legacy?

BERKARYA UNTUK PERUBAHAN

“Kamu ngerjain video gitu untungnya apa?”
“1 videonya dibayar berapa?”
Pertanyaan-pertanyaan itu dan semacam itu yang muncul ketika aku bercerita bahwa aku sedang mengerjakan video-video untuk #EasyEnglish.
Aku nggak tahu harus jawab gimana pertanyaan-pertanyaan itu. Karena kalau pertanyaannya seperti itu, maka kemungkinan besar prinsipku dan prinsipnya udah berseberangan. Apa yang aku yakini tidak menjadi apa yang mereka yakini. Tampaknya, apa yang aku kerjain itu nggak ada gunanya, kecuali kalau itu menghasilkan materi. Apakah bener kayak gitu? Aku pengen cerita sesuatu kali ini.

Seperti yang udah pernah aku ceritakan sebelumnya tentang #EasyEnglish, #EasyEnglish is a social education project yang diinisiasi oleh @karlinakuning sejak 2010 yang dimulai dari twitter. Jadi intinya membagikan ilmu tentang Bahasa Inggris di twitter melalui serial tweet dan totally free. Dibagi-bagiin aja. Kalau itu aku, belum tentu lho aku dalam sebulan bisa bertahan ngelakuin itu. Sebulan berikutnya mungkin aku udah quit.

Think English, Think Easy, itu adalah tagline dari #EasyEnglish. Kenapa seperti itu? Karena melalui #EasyEnglish, karlinakuning pengen menyebarkan cara belajar Bahasa Inggris dengan mudah dan menyenangkan. Jadi, memang ada sebagian orang yang ketika ketemu Bahasa Inggris itu udah males duluan, karena kesannya itu sulit. Padahal dimana-mana juga bakal ketemu dengan Bahasa Inggris. Nah, #EasyEnglish pengen menghapus stigma itu.

Dari 2010-2016 (6 tahun men!) #EasyEnglish kemudian berkembang nggak hanya di twitter, tapi juga jadi siaran di radio, jadi buku, jadi video di youtube. Dan aku baru ketemu @karlinakuning tahun 2014 untuk jadi satu tim ngembangin #EasyEnglish di Youtube. Setelah video berjalan selama setahun, mulai deh satu per satu muncul testimoni tentang video. Lucu-lucu, bahkan sampai ada yang ngirimin foto lagi muter video #EasyEnglish waktu ngajar di kelas. Agustus 2015, kami mulai nge-release video #EasyEnglish dalam DVD, supaya makin banyak orang yang bisa merasakan manfaatnya. Karena ternyata nggak semua orang punya akses internet untuk streaming video di youtube kan? πŸ˜€ Dari Agustus 2015-Juni 2016 sudah tersebar sekitar 200 DVD #EasyEnglish di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Ini video interview tahun 2014 bareng @karlinakuning yang merangkum perjalanan #EasyEnglish selama ini.


Sekitar 2 bulan yang lalu aku bilang gini sama mbak Karlina, “Mbak, aku mau buat poster peta persebaran DVD #EasyEnglish..”
“Mau dibuat movement po?”, jawabnya.
“Hayokk, gimana caranya mbak?”
And, here we are now. 15 Juni 2016 ini kami mulai menggalang dana, melakukan social movement, #EasyEnglish Swaragama FM Berbagi Untuk Negeri. Awalnya, aku sama mbak Karlina cuma berpikir disebarin di internal link aja dulu. Tapi ternyata kemudian anggota tim bertambah dan berkembang, menjadi sebuah gerakan yang aku percaya bakal lebih massive dari yang sebelumnya kami pikir. Ada mbak Karlina di Jerman; mbak Rara di Jepang; aku, mbak Yusira, sama mbak Tika Yusuf di Indonesia. Hahihi..

Ini kemarin saat launching program #EasyEnglish Swaragama FM Berbagi Untuk Negeri.

Launching EasyEnglish Swaragama FM Berbagi Untuk Negeri
Aku, Yusira, dan Tika Yusuf (my favorite radio announcer :D). Yusira & Tika Yusuf adalah alumni Pengajar Muda Indonesia Mengajar.


Dan ini rekaman saat launching:


Sekitar setahun yang lalu, aku pernah nulis di blog (yang sekarang tulisannya hilang karena nggak tahu cara yang bener ngebackup data waktu mindah hosting kemarin) gini:
“Aku masih punya mimpi untuk #EasyEnglish. Aku pengen supaya #EasyEnglish bisa dijangkau sekolah SMP dan SMA di seluruh Indonesia.”
Sejatinya ketika aku menulis itu rada keder juga. Tapi yang aku yakini, kalau aku nggak berani menuliskan itu, maka semakin sulit hal itu diwujudkan. Makanya tak tulis aja. Soal terwujudnya kapan ya dilihat nanti aja, gitu. Eeee.. sekarang.. Aku bersyukur banget.

Aku harap cerita ini bisa menjawab pertanyan-pertanyaan tadi. Sekarang aku makin yakin bahwa karya yang kami buat di #EasyEnglish tidak sedang berteriak di ruang-ruang kosong. Kami berkarya untuk perubahan. Berkontribusi untuk negeri ini. Dan satu hal lagi, aku hanya sedang belajar untuk menjadi pribadi yang bermakna.

*jadi aku adalah akademia jogja yang pernah ditelpon sampe 3 kali untuk ikut kuis-kuisan yang aneh-aneh itu. Sampe aku mbatin, kalau besok aku dihubungi lagi sama Swaragama, aku harus naik level. (Pesannya adalah hati-hati dengan prasangkamu. Bukankah Tuhan bilang bahwa Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya?)*

THE CLIENTS

Beberapa kali dapat job dari client, komunikasi dengan orang yang berbeda-beda, men-delivery kebutuhan yang berbeda, muncul cerita yang berbeda-beda. Kadang ketemu client yang udah jelas maunya apa, kadang juga malah sebaliknya, nggak tahu maunya gimana.

Dapat client yang sangat mandiri itu memudahkan pekerjaan. Hehe. Udah buat script sendiri, ngrekam voice over sendiri, dan jelas maunya gimana. Bahkan sangat detail maunya gimana. Di bagian ini minta animasinya begini, di bagian itu animasinya begitu. Seneng kalau dapat brief yang jelas begini. Lebih asik lagi kalau si client paham betul rate seharusnya berapa. Ihiiiyyy.. \^^/

Di lain waktu aku dapat client yang masih bingung maunya gimana. Nah, ini tantangan sebenernya. Menggali kebutuhan orang itu ternyata nggak mudah. Kalau client bingung, apalagi aku gimana mau ngerjainnya. Kan tambah bingung. Perlu jam terbang untuk membangun komunikasi yang baik dengan client.

Aku juga pernah nerima job yang scriptnya berasa makalah. Script itu textbook banget. Dan itu panjangnya 7 atau 8 halaman (script doang, bukan brief). Ada banyak kosakata yang baru aku denger dan bagiku itu asing banget karena memang dia ambil fokus di bidang tertentu. Ini berat. Kalau aku nggak paham dengan apa yang dia bahas, gimana aku bisa memvisualkan kebutuhannya dia. Ini PR banget memang. At the end, aku nggak puas dengan hasilnya.

Aku juga pernah dapet voice over yang aduhhhhh.. rekamannya kurang bagus, terus dibawain dengan flat dari awal sampai akhir. Aku gemes banget dengan hal kayak gini. Ya karena menurutku kekuatan narasi itu ada di bagaimana itu dibawakan dengan tepat. Intonasinya pas, jedanya juga pas, pelafalannya jelas, dibawakan juga dengan antusias. Dalam hal ini aku justru lebih banyak ngamatin penyiar radio bagaimana mereka siaran. Karena dari situ aku mendapat gambaran bagaimana seharusnya narasi dibawakan. Aku juga ngebayangin bagaimana pengisi suara untuk film-film animasi bisa membawakan itu dengan suara yang ekspresif. πŸ˜€ Sepertinya suatu hari ini aku perlu menawarkan diri jadi narator juga untuk mengatasi masalah ini. Aku mungkin nggak akan merekam itu di studio, but I know how to handle it.

The last, ada client yang mau hasilnya bagus tapi nggak ngasih brief yang jelas, terserah yang buat aja, durasinya lama, dan deadline-nya besok. What?! Kalau kayak gini mending nggak aku terima sekalipun dia berani bayar mahal. Bagiku ini bukan soal duitnya. Kerja kreatif bukan hal yang bisa diburu-buru. Buat aset video butuh waktu, mixing sound butuh waktu, buat motion-nya juga butuh waktu.

Aku sering ditanya, “Buat video yang itu berapa hari? Aku jawab 3 minggu. Orang yang nanya setengah kaget gitu. Iyalah video itu asetnya banyak, aku mixing sound juga, buat motion-nya juga. Hehe..

Brief yang jelas, narasi yang bagus, dapat deal yang bagus itu adalah perpaduan yang pas. Tapi nggak selamanya aku bisa ketemu yang seperti itu. Once again, butuh jam terbang untuk membangun komunikasi yang baik dengan client. Bisa men-delivery kebutuhan mereka dan memberikan hasil yang terbaik itu sangat penting bagiku. That’s my pleasure. Kadang aku sampai stalking socmed si client kalau memang harus nggambar karakter. Ngamatin apa yang sering dipakai, rambutnya luruskah atau bergelombangkah, hidungnya gimana.. Bahaha.. Aneh memang. Tapi nggak cuma aku yang kayak begitu. Kemarin aku dengerin illustrator bukunya Rene Suhardono (Ultimate U Scrap Book), ehh dia ngaku kalau stalking mas Rene untuk bisa buat ilustrasinya. Wkwkwkw..

Setiap Anak adalah Juara, Setiap Manusia adalah Juara

Dulu sebagai siswa aku pernah terjebak dalam pandangan umum yang mengatakan bahwa anak cerdas adalah anak yang juara kelas, mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran, masuk sekolah unggulan, lebih hebat lagi bila masuk kelas unggulan. Woohhh..itu idaman orangtua dan guru banget. Perfect! Kalau nilainya bagus, pintar di semua mata pelajaran, anak ini akan bisa masuk universitas ternama, kemudian mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan ternama dengan gaji besar. Dan itulah deskripsi “sukses” menurut pandangan sebagian besar dari masyarakat kita.

Ada sebuah cerita, karena pandangan seperti itulah yang diterima oleh masyarakat, termasuk orang tua, anak yang biasa-biasa saja, dengan nilai pas-pasan, semakin terseok-seok langkahnya ketika tiba waktu sekolah. Sekolah hanya menjadi asik karena bisa bertemu dengan teman. Sementara itu, pelajaran tidak menarik lagi. Namun karena tuntutan orang tua dan pandangan masyarakat tadi, akhirnya si anak harus mengikuti les di sana-sini. Dia baru pulang sekolah jam 4 sore. Setelah maghrib berangkat lagi les mata pelajaran yang menjadi kelemahannya hingga jam 9 malam. Tentu dengan les, harapannya si anak menjadi lebih paham, nilainya bagus, kalau perlu angkanya sempurna. Tapi apa yang terjadi? Si anak tetap saja remidial dan remidial lagi pada bidang-bidang yang menjadi kelemahannya. Mau jungkir balik les kesana-kemari tetap saja nilainya segitu. Ngos-ngosan untuk mencapai nilai ketuntasan agar tidak masuk kategori remidial.

Namun, dibalik semua kelelahannya (fisik dan mental) dalam belajar untuk mencapai standar ketuntasan minimum, ia tidak pernah remidial pada pelajaran bahasa inggris dan komputer. Pada dua pelajaran itulah, teman-temannya sering meminta bantuan. Entah itu membantu dalam bentuk penjelasan ulang, menyelesaikan tugas, atau memberikan contekan. Sayangnya, lagi-lagi kita harus kembali lagi pada pandangan sebelumnya. Kelebihan si anak tetap tidak bisa dikatakan sebagai bekalnya untuk menghadapi dunia di kemudian hari. Dan sekali lagi, tanpa sadar, fokus si anak akhirnya hanya tertuju pada kelemahannya yang bertumpuk-tumpuk itu. Sementara, kelebihannya semakin hari semakin meredup.

Begitulah jika definisi cerdas hanya berfokus pada nilai-nilai yang bagus di semua mata pelajaran. Dan ternyata pandangan seperti itu tidak benar. Menurut Howard Gardner, penemu teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences), kecerdasan setidaknya dapat dibagi dalam 8 jenis kecerdasan. Ada cerdas bahasa (linguistik), cerdas visual, cerdas interpersonal (bergaul), cerdas intrapersonal (diri), cerdas naturalis (alam), cerdas musik, cerdas kinestetis (olah tubuh), dan cerdas logis-matematis (angka). Di antara 8 jenis kecerdasan itu pasti setidaknya ada 1, 2, atau 3 yang menonjol. Sementara yang lainnya lebih lemah. Teori ini mengajak untuk memaksimalkan kecerdasan yang menonjol dan menutup rapat-rapat kecerdasan yang lebih lemah.

“Penting banget ya tahu tentang kecerdasan majemuk itu? Dulu nggak ada kayak gitu dan semua baik-baik saja!”
Menurutku sih penting banget ya. Dengan mengenali jenis kecerdasan yang dimiliki anak, itu akan membantunya untuk menentukan arah karier dan profesinya kelak, sesuai dengan modal yang diberikan Tuhan kepada si anak. Misalnya saja, anak yang cerdas bahasa adalah calon-calon penulis, penyiar radio, atau wartawan. Anak yang cerdas visual adalah calon desainer, arsitek, atau pelukis. Anak yang pandai bergaul adalah calon-calon negosiator, konselor, atau manajer. Anak yang cerdas intrapersonal adalah calon-calon psikolog, pemimpin agama, atau psikiater. Anak yang punya kecerdasan naturalis adalah calon-calon peneliti, dokter hewan, atau aktivis lingkungan. Anak yang cerdas musik adalah calon-calon penyanyi, komposer, atau pencipta lagu. Anak yang cerdas kinestetis adalah calon-calon atlet, aktor, atau penari. Sedangkan anak yang cerdas logis-matematis adalah calon-calon programmer, ilmuwan, atau ahli ekonomi.

Bayangkanlah bila sekolah, guru, dan orangtua tidak memahami kelebihan si anak. Kecerdasannya yang menonjol tidak pernah dihargai, sementara kelemahannya terus yang diulik untuk diperbaiki. Akhirnya, si anak menjadi rendah diri, tidak percaya diri, mempercayai bahwa dirinya bodoh, dan yang paling buruk adalah stres. Ketika ditanya, “Kamu mau kuliah di jurusan apa?” Jawabannya, “Nggak tahu, mana aja lah yang sekiranya bisa lulus tes masuk.” DENGGGGGG!!

Sebaliknya bila anak dihargai kecerdasannya, itu akan sangat memudahkan dia dalam menemukan gaya belajarnya. Anak juga lebih percaya diri dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Anak yang dihargai kecerdasannya, bila diberi dukungan dan stimulus yang tepat kemampuannya bisa melejit.

Aku tidak berkuliah di jurusan keguruan ataupun psikologi, maka janganlah percaya seratus persen dengan apa yang aku tulis ini. Saranku, langsung merujuklah pada buku-buku ini:
1. SEKOLAHNYA MANUSIA (Munif Chatib)
2. SEKOLAH ANAK-ANAK JUARA (Munif Chatib)
3. BELLA (Munif Chatib)
4. BAKAT BUKAN TAKDIR (Bukik Setiawan)
5. RAHASIA AYAH EDY MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK (Ayah Edy)
(Buku-buku ini bisa didapatkan di https://www.tokopedia.com/sentrainspirasi/etalase/parenting-pendidikan)

Dan sebenarnya masih banyak buku-buku lain yang sama pentingnya untuk mendapatkan penjelasan lebih, bahkan pelaksanaan teknis bagaimana menerapkan teori kecerdasan majemuk ini hingga menemukan arah karier anak. Bila semua buku-buku ini digabung, benang merahnya sama.

Buku Munif Chatib, Ayah Edy , Bukik Setiawan
Aku baru ngeh dengan semua ini di usia 23 atau 24 tahun, yang menurutku cukup telat. Awalnya hanya karena sering dengerin talkshow parenting, lama-lama jadi ngeh bahwa ada banyak hal yang perlu dibenahi dari sistem pendidikan di Indonesia. Dan banyak paradigma keliru yang dipercayai, kemudian dianggap jadi kebenaran umum hanya karena setiap orang mengatakan begitu. Tentu membenahi itu tidaklah mudah. Perlu kerjasama dan kesadaran bersama dari sekolah, guru, dan orangtua. Tapi aku percaya bahwa sistem ini sedang diperbaiki. Pak Menteri Anies Baswedan sedang membawa Indonesia menuju ke sana.

Beruntunglah bila sejak dini anak sudah dipahami kecerdasannya, kelebihannya, dan potensinya. Maka arah masa depannya bisa lebih jelas, bukan hanya berdasar asumsi dan kata orang saja. Maka, di usia sekitar 20-an tahun ia sudah berkarya, berkontribusi bagi banyak orang, atau bahkan berkeliling dunia karena potensi yang dimilikinya (bukan hanya menjadi pekerja yang stres dan mengeluh setiap hari). Biaya dan waktu yang digunakan untuk belajar adalah investasi. Contohnya, Sungha Jung dan Joey Alexander.

Nah, bagaimana kalau sudah bukan anak-anak lagi? Ada dua pilihan. Pertama, jalani saja apa yang sudah ada dan berisiko untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja, banyak mengeluh, banyak stres, nggak enjoy dengan apa yang dikerjakan, tidak banyak berkontribusi bagi sesama, lebih berorientasi hanya pada materi dan menghitung untung rugi. Atau, pilihan yang kedua, ubah haluan, cari jalan baru berdasarkan kelebihan yang sudah diberikan Tuhan. Potensi, passion, ketertarikan pada hal-hal tertentu itu diberikan Tuhan sebagai modal untuk menjadi manusia yang berguna. Gifted. Itulah misi hidup yang sudah digariskan Tuhan. Masa iya Tuhan nggak ngasih jalan? Aku pernah dipesani Ayah Edy untuk membaca buku-buku Biografi orang sukses dan lebih banyak menunjukkan bukti atas kemampuan yang dimiliki. Andaikan semua orang menjalani karier sesuai dengan potensi unggulnya, maka dunia ini akan lebih baik. Karena setiap orang melakukan profesinya dengan sepenuh hati, berdedikasi dan penuh pengabdian.

Tidak ada anak bodoh. Semua anak cerdas. Semua anak juara pada bidangnya masing-masing. Tinggal sekolah, guru, maupun orangtua mau tidak untuk mengangkat kelebihan dan menutup kelemahan si anak.

Ehh, ada lagu bagus dari Billy Joel. Judulnya “James”.

James…do you like your life,
Can you find release,
And will you ever change
Will you ever write your masterpiece.
Are you still in school
Living up to expectations
James…
You were so relied upon, everybody knows how hard you tried
Hey…just look at what a job you’ve done,
Carrying the weight of family pride.
James…you’ve been well behaved,
You’ve been working hard
But will you always stay
Someone else’s dream of who you are.
Do what’s good for you, or you’re not good for anybody