Merespon dengan Antusias

Bayangkan ini:
Suatu hari, kamu ingat temenmu akan berulang tahun bulan depan. Sebelum hari H, kamu memilih-milih, nyari ide, apa kiranya kado yang cocok buat dia. Akhirnya, kamu dapet ide kado yang dia banget pokoknya. Dan kamu nyiapin itu sebulan sebelumnya. Pas hari H, kamu kasih dong kado itu ke dia. Eh, tapi dia cuma merespon dengan, “O ya.. makasih ya..” Habis itu dia juga nggak ada ngirim pesan atau nge-chat kamu tentang kado itu. And then, what do you feel? Biasa-biasa aja?

Bagaimana kalau respon temenmu ketika kamu kasih kado yang udah kamu siapkan khusus buat dia itu begini:

“Woww..Apa ini?”
“Buka yaaa? Buka yaaa?
Dan kamu mengizinkan dia membuka itu.
“Woww.. Aaaaaaaaaakkkk.. Sukaaaaa.. Sukaaaaaa…”
Terus tiba-tiba dia meluk kamu sambil bilang, “Makasih yaaaa..”

Apa yang kamu rasakan ketika menerima respon seperti ini? Beda nggak dengan cerita sebelumnya?

Misalnya lagi, kamu baru saja berhasil melakukan sesuatu yang menurutmu penting banget. Dan kamu pengen dong membagi rasa bahagiamu ke temenmu. Kamu pun memulai ceritamu dengan antusias, cerita ini itu. Tapi respon temenmu cuma, “Mmm… Mmmm… Mmm.. Ya.. Oke.. Mmm.. Ya..” Kamu pun sampai di ujung ceritamu dan temenmu juga kemudian nggak ada tanggapan sedikit pun selain kata-kata tadi. Gimana coba perasaanmu? Kira-kira besoknya kamu bakal cerita lagi nggak ke dia?

Bagaimana kalau respon temenmu begini:

“Oh yaaa?”
“Kok bisa?”
“Terus gimana?”
“Ohh gitu ya?”
“Kereeennn” (sambil dia memberi 2 jempol untuk kamu)
Dan selama kamu cerita, dia memusatkan perhatian hanya ke kamu.

Apa yang kamu rasakan ketika mendapat respon seperti ini?

Kayaknya sepele banget ya, respon-respon begini. Tapi dari hal yang sepele ini, ternyata bisa memunculkan perasaan yang berbeda. Satunya merasa tidak dihargai, satunya lagi merasa dihargai banget. Satunya merasa dianggap nggak penting, satunya lagi merasa dianggap penting banget. Bagaimana kalau ini terjadi nggak hanya dalam level pertemanan, tapi lebih jauh lagi ke pasangan, atau anak ke orangtua. Respon yang nggak tepat, pastinya akan memunculkan hal yang pelik. Apalagi kalau respon yang tidak tepat itu dikumpulkan sampai bertahun-tahun, gunungan masalahnya juga lebih tinggi.

Setiap orang punya pendapatnya sendiri sih soal ini. Tapi, aku memilih untuk belajar dari orang-orang yang bisa merespon dengan antusias, walaupun sejatinya aku lebih banyak poker face-nya. Setidaknya aku jadi belajar untuk membuat orang lain merasa dihargai dan merasa bahwa dirinya dan seluruh ceritanya juga penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *