MEMBACA BUMI MANUSIA

MEMBACA BUMI MANUSIA

Pramoedya Ananta Toer

Kemarin aku baru saja mulai membaca Bumi Manusia dari Pramoedya Ananta Toer. Aslinya, aku malas membaca tulisan yang latar ceritanya kembali ke zaman-zaman penjajahan Belanda. Menurutku itu zaman yang suram. Tapi, karena disarankan seorang teman untuk membaca tetralogi Buru ini, dan juga aku tahu dari buku #Sharing2 bahwa Pak Handry Satriago, CEO GE, juga membaca Bumi Manusia, maka akhirnya aku baca buku pertama dari tetralogi Buru ini. Pasti ada yang menarik, pikirku. Dan iya menarik. Kemarin aku mulai membaca, hari ini sudah selesai dengan buku setebal itu.

Dulu, perempuan tidak dihargai sama sekali. Hanya menjadi objek yang bisa dinikmati siapa saja yang menghendaki, bisa dijual untuk kepentingan jabatan kemudian dibuang. Begitulah yang aku dapati dari kisah Nyai Ontosoroh, dijual 25 gulden oleh Ayahnya sendiri untuk mendapatkan jabatan yang ia impikan. Nyai Ontosoroh dan keluarganya adalah pribumi. Pribumi adalah kasta paling rendah. Pribumi yang pandai baca-tulis, punya jabatan, akan dihormati dan dielu-elukan.

Minke yang bersekolah di sekolahnya Belanda, H.B.S., merutuki nasibnya yang harus merangkak dan menyembah seorang bupati, yang baru ia ketahui kemudian itu adalah ayahnya sendiri. Minke yang mempelajari ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, memprotes keras adat Jawa yang membuatnya merasa terhina.
“Sungguh, teman-teman sekolah akan menertawakan aku sekenyangnya melihat sandiwara bagaimana manusia, biasa berjalan sepenuh kaki, di atas telapak kaki sendiri, sekarang berjalan setengah kaki, dengan bantuan dua belah tangan. Ya Allah, kau nenek-moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri begini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenek-moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampaihati mewariskan adat semacam ini?” (Bumi Manusia, hal 181).

Kakak Minke, bersekolah di S.I.B.A, School voor Inlandsche Bestuursambtenaren, Sekolah Calon Pejabat Pangreh Praja Bumi. Mungkin ini cikal bakal STPDN di jaman sekarang.

Kembali ke Minke, aku melihat dia agak nakal. Dengan beraninya, dia mencium Annelies Mellema, anak Nyai Ontosoroh yang menawan hatinya, di hari pertama ia bertemu dengannya. Dan itu yang kemudian menariknya tinggal di rumah Annelies. Annelies yang begitu bergantung pada Minke, cinta mati padanya, bahkan kondisi kesehatannya bisa menurun drastis bila tidak ada Minke, membawa Minke dan Annelies dari yang terpisah kamarnya, lalu sampai tidur sekamar. Dan kemudian, ya begitulah. Nyai Ontosoroh membiarkan itu demi kesehatan anaknya. Aku tidak setuju dengan cerita pada bagian ini. Karena Minke Islam dan mereka belum menikah. Tapi kalau dipikir-pikir, aku berasumsi bahwa Islam pada zaman itu belum berkembang seperti sekarang. Jadi, banyak yang beragama Islam, tapi belum melaksanakan dengan sepenuhnya. Sewaktu membaca bagian cerita ini aku teringat film Sang Pencerah. Mungkin aku memang harus menambah bacaanku tentang bagaimana masuknya Islam ke Indonesia dan sejarah para Wali Songo dulu. Pram hanya menulis keadaan yang sesungguhnya pada zaman itu.

Minke itu seorang yang cerdas. Senang menulis. Dan tulisan-tulisannya dimuat di surat kabar. Diawali dengan cerita kekagumannya pada Nyai Ontosoroh, dengan nama pena Max Tollenaar. Kemudian tulisan-tulisannya berkembang menjadi bentuk perlawanannya pada ketidakadlian yang ia alami.

Minke yang mengelu-elukan ilmu pengetahuan dan adab dari Eropa yang ia pelajari, pada akhirnya harus dijatuhkan oleh ketidakadilan hukum Eropa. Karena dalam hukum kulit putih, pribumi tidak punya hak sama dengan orang-orang Eropa atau yang mempunyai darah keturunan Eropa. Pribumi selalu kalah, selalu ditindas.

Kemudian, cerita Bumi Manusia ini berakhir menggantung.

Aku jadi berpikir, banyak sekali peninggalan Belanda pada bangsa Indonesia. Dari bangsa yang dulu tidak mengenal pakaian, menjadi orang yang bisa berpakaian (cek kata Tuan Moreno, hal 198). Menjadi kenal yang namanya sekolah. Kenal dengan sistem pemerintahan. Dan mungkin juga kita mewarisi pandangan tentang menjadi pribumi yang terhormat. Entahlah, itu bisa jadi hanya asumsiku.

Setelah membaca Bumi Manusia, kepalaku serasa berat. Mungkin karena terlalu larut dalam cerita dan segala konfliknya. Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies, tidak pergi menghilang begitu saja dalam pikiranku. Dan masih ada 3 buku lagi. Buku kedua, Anak Semua Bangsa.

Dalam Bumi Manusia juga disebutkan Max Havelaar karya Multatuli, Eduard Douwes Dekker. Aku rasa buku ini harus aku baca juga.

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer bisa didapatkan juga di sini, buku Asli bukan bajakan ~> tokopedia.com/sentrainspirasi

Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah

3 Comments

  1. aku malah nemunya yang buku kedua ama keempat rum di perpus kota T_T
    tapi belum sempet baca hehehe 😛
    setelah baca ulansanmu ini setidaknya gak nge-blank banget lah ntar pas aku baca yang buku kedua hehehe

    1. banyak tokoh yang belum aku sebut itu men… agak nggak tepat juga kl disebut ulasan.. tulisan suka-suka ini.. mwehehe.. harus segera baca men.. Anak Semua Bangsa, pasti akan lebih keren lagi.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *