KENAPA NGGAK MAU JADI PNS?

KENAPA NGGAK MAU JADI PNS?

Kata Jaya Setiabudi
Tulisan Mas Jaya ini (click to view the original post) mengingatkanku pada beberapa bulan yang lalu tentang hal yang sama, yang sudah sangat mengganjal.

“Kenapa nggak mau jadi PNS?”
“Jadi PNS itu enak lho…”
“Masih bisa nyolong-nyolong waktu, kerjanya santai, dapat uang pensiun, nggak kayak kerja di swasta..”
Kurang lebih begitu beliau menjelaskan, sambil tersenyum. Sementara aku, hanya membalas beliau dengan senyuman saja, karena aku menghormati beliau. Kalau pun aku mendebat hanya akan jadi debat kusir. Aku bertahan dengan pendapatku, sementara beliau bertahan dengan pendapatnya. Dan aku malas juga berdebat di rumah orang.

FYI, beliau adalah seorang pensiunan PNS dan sudah pernah menjabat sebagai kepala dinas. Dari wajahnya yang terlihat adem itu, aku percaya bahwa beliau orang baik. Hanya saja, ethos kerjanya seperti PNS kebanyakan.

Nggak ada yang salah sebenarnya menjadi PNS ataupun karyawan di perusahaan swasta. Kalau ethos kerjanya sama dengan contoh tadi, maka akan sama saja. Mari kita coba membayangkan dulu.. Kalau satu orang, pimpinan, dalam sebuah organisasi seperti ini, bagaimana dengan anak buahnya? Semua hanya kerja asal kerja, sekadar memenuhi kewajiban, memenuhi daftar hadir.

Itu masalah? Menurutku sih iya. Lingkungan kerja yang buruk akan men-drive seseorang menjadi buruk juga. Padahal yang menggerakkan sebuah perusahaan atau organisasi adalah manusia-manusia yang ada di dalamnya. Hasilnya apa? Roda organisasi hanya akan jalan di tempat, tidak punya inovasi, dan hanya menjalankan pakem yang sudah ada. Bayangkan kalau ini terjadi pada instansi pemerintah, dari yang di bawah (daerah) sampai top level di pusat.

Kerja asal kerja, fokusnya bukan pada performa, bukan pada kinerja, bukan pada kontribusi. Akibatnya, orang-orang seperti ini hanya bekerja sekadar untuk memenuhi kewajiban, sekadar mengisi daftar hadir, yang penting bos senang. Kerja hanya didasarkan pada ketakutan pada pimpinan, bukan untuk melayani masyarakat yang merupakan tugas dari instansi pemerintah. Lihatlah, betapa hebohnya pegawai-pegawai yang ada di daerah ketika ada inspeksi dari pusat. Semuanya harus senyum, semua harus nampak baik-baik saja, semua harus kelihatan kerja, menyenangkan hati bos. Ketika bos pulang, balik lagi kerjanya ya gitu-gitu aja.

Belum lagi kalau pimpinan mengajari bawahannya nakal dengan mark-up anggaran. Staf yang di bawah hanya semakin hidup dalam ketakutan dengan ancaman dari pimpinannya. Awalnya masih takut-takut, tapi lama-lama mentalnya terbentuk seperti itu juga. Awalnya masih takut untuk menyuap, lama-lama bilang, “Jaman sekarang nggak bisa kalau nggak pakai duit.”Terjadilah korupsi berjamaah. Mungkin dulu pas awal-awal jadi PNS punya idealisme tinggi, karena lingkungan kerja yang kayak gitu, lama-lama idealisme tergerus juga. Ibarat singa, dipimpin sama kambing, jadilah singa itu singa yang mengembik bukan mengaum. Bukannya semakin menunjukkan performa, bukannya semakin menunjukkan profesionalisme di bidangnya, malah semakin meredup, semakin stres. Akhirnya, kerja hanya sekadar kerja, untuk sekadar makan, yang penting aku dan keluargaku hidup dan selamat.

“Kalau hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup! Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja!,” kata Buya Hamka.


Manusia dengan segala kelebihannya tentu diamanati Tuhan tugas yang lebih besar dibandingkan dengan babi hutan dan kera. Terlalu egois bila manusia hanya berpikir tentang dirinya sendiri dan keluarganya saja. Dan tampaknya Tuhan sangat mengerti itu dengan memberikan fitrah pada manusia untuk berkontribusi pada sesama, memberikan manfaat pada sesama. Melalui apa? melalui karya yang dihasilkan dari keunikan tiap pribadi. Percayalah, bukan harta yang banyak yang menjadikan orang itu bahagia, melainkan apa yang bisa kita berikan untuk orang lain melalui kontribusi kita, melihat orang lain tersenyum dengan karya kita, dengan apa yang kita perbuat. Dan kontribusi kita, kepedulian kita pada masalah-masalah yang ada pada lingkungan sekitar, akan lebih powerful kalau kita berada pada lingkungan ataupun organisasi yang sejalan dengan misi kita. Kita secara pribadi akan happy, organisasi happy, society juga happy.

Sudahkah organisasi di pemerintahan bisa mengakomodasi kebutuhan setiap individu untuk berkarya dan berkontribusi? Tampaknya perlu perombakan besar-besaran dari pusat hingga level daerah. Tapi satu hal yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan menemukan pemimpin organisasi yang berintegritas, open-minded, menjadi teladan, namun tidak mudah digoyahkan oleh tekanan-tekanan dari pihak-pihak lain. Kenapa harus pimpinan? Karena top level lah yang punya kuasa membuat aturan. Kalau pimpinan punya leadership yang bagus, membawa budaya kerja yang bagus, anak buahnya juga akan seperti itu. Singa yang dipimpin singa akan semakin menjadi singa, dan kambing yang dipimpin oleh singa akan berkepribadian seperti singa.

It’s just a thought.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *