February 5, 2017

KEMAUAN BERKARYA DAN SISTEM PENDIDIKAN

NoteNo Comments

You Are Here:KEMAUAN BERKARYA DAN SISTEM PENDIDIKAN

Kemarin, ketika aku menonton film dokumenter tentang deforestasi di Indonesia yang disiarkan oleh Showtime, ada satu hal yang membuat aku merasa miris. Kenapa aku harus menonton dokumenter sebagus ini dari channel luar negeri? Kenapa bukan channel tv nasional yang menyiarkan itu? Sementara dunia internasional melihat kasus deforestasi di Indonesia, orang-orang kita sibuk menonton sinetron yang menyajikan cerita perebutan harta warisan, anak tertukar, perebutan pacar, geng motor, dan banyak lagi lainnya. Atau, kontes menyanyi dangdut yang jurinya malah ribut sendiri, bahkan menyerang pribadi dari masing-masing juri. Atau, sibuk menonton drama yang di-import dari negara lain. Kita terlalu lelap dengan tayangan-tayangan seperti itu.


Jika kita lihat industri sinetron saja, paling ya nama-nama itu saja yang sering muncul di setiap credit berbagai sinetron. Ini baru industri sinetron lho. Bagaimana dengan bidang-bidang yang lain? Ya memang kalau kita melihat industri televisi, tentu banyak kepentingan di sana. Tapi, satu hal yang ingin aku soroti adalah, jangan-jangan kita sebenarnya kekurangan orang yang bisa dan mau membuat konten? Jangan-jangan kita kekurangan orang yang produktif dan mau berkarya?

Indikasi lainnya adalah, banyak yang memilih sebagai pekerja dan berhenti di level itu saja. Artinya, ya hanya menjalankan kewajiban, menjalankan tugas dari atasan, menerima gaji, dan sudah begitu saja setiap hari. Misalnya saja, seorang guru, pengajar, atau dosen memang bekerja untuk institusi tertentu. Tapi yang kemudian jadi pertanyaan adalah, berapa banyak buku yang sudah Ia tulis, berapa banyak tulisannya yang dimuat di media cetak, berapa banyak publikasi ilmiah yang telah dimuat di jurnal? Itu bedanya level pekerja dengan orang yang berkarya.

Semua hal di dunia ini memang tidak terjadi begitu saja, tapi melalui proses. Nah, kaitannya dengan hal ini, aku melihat pendidikan punya andil besar dalam mendorong orang untuk berkarya. Masalahnya adalah, sistem pendidikan kita ternyata belum mengambil peran itu. Seingatku, sejak pendidikan dasar hingga tingkat menengah, aku jarang membuat karya atau produk, kecuali pelajaran kesenian. Penilaian terhadap keberhasilan belajar seorang anak lebih ditekankan pada nilai-nilai ujian di atas kertas. Di akhir tahun ajaran pun, tidak ada pameran produk yang merupakan karya dari siswa.

Mengapa Kemampuan Berkarya itu Penting?
Karya atau produk bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar seorang anak. Dengan berkarya, anak secara tidak langsung akan belajar untuk menganalisa, melatih proses berpikir kreatif, dan memecahkan masalah. Di dunia yang penuh masalah dan begitu kompleks ini, kemampuan-kemampuan tadi akan sangat dibutuhkan. Ketika dewasa, mereka akan menjadi orang-orang yang tidak hanya tahu berbagai informasi, tapi juga bisa mengolah informasi yang diperoleh menjadi sebuah produk yang berguna untuk masyarakat.

Lalu, Posisi Kita Ada Di mana?
Kurikulum nasional mungkin memang belum sampai pada tahapan ini. Tapi, sudah ada beberapa pihak yang mendirikan sekolah yang mempunyai kurikulum yang berbeda, yang lebih memanusiakan dan ramah anak. Mereka inilah yang justru tergerak untuk mendorong anak memiliki kemampuan-kemampuan tadi. Selain sekolah, ada keluarga-keluarga yang menerapkan homeschooling. Salah satu cara penilaian dalam homeschooling adalah dengan membuat portofolio karya.

Hasil Pengamatanku terhadap Konten Youtube
Pembuat konten di youtube dari Indonesia mulai merangkak naik. Tapi, konten-konten yang banyak penontonnya masih terbatas pada konten parodi, komedi, atau yang kontroversial. Kita perlu membuat beragam konten. Kita juga perlu memperbanyak pembuat konten, terutama konten edukasi. Di satu sisi, kita memang belum terbiasa untuk menggunakan internet sebagai sumber belajar. Bukan berarti tidak bisa, tapi memang perlu proses. Kita sedang dalam proses beradaptasi dengan hal itu. Kita memang masih lebih banyak mencari konten hiburan (entertainment) dibandingkan konten edukasi. Menjadi sebuah PR tersendiri bagi kita untuk bisa menggabungkan konten hiburan dan edukasi menjadi edutainment.

Konten edukasi produksi National Geographic

Jika makin banyak pembuat konten, makin banyak pilihan yang kita punya. Sehingga yang tersaji tidak hanya konten yang buruk, tapi juga banyak konten yang bagus dan bermanfaat. Tinggal bagaimana kita bisa memilih dan memilah itu.

Jadi, kita tidak hanya berhenti pada level masyarakat konsumtif dan penuh komplain tapi menjadi masyarakat yang berkarya dan ikut mengambil peran untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Daftar Bacaan:
Chatib, Munif. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa, 2015
Firdaus, Andrie; Setiawan, Bukik. Bakat Bukan Takdir. Tangerang: Buah Hati, 2016
Griffith, Mary. Home Schooling: Menjadikan Setiap Tempat sebagai Sarana Belajar. Bandung: Nuansa, 2012
Sumardiono. Apa itu Homeschooling?. Jakarta: Panda Media, 2014

About the author:

Eria Arum adalah seorang yang passionate di bidang ilustrasi dan motion graphic. Saat ini tengah membuat English Learning Video untuk #EasyEnglish @karlinakuning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top