March 13, 2017

I Wanna See The Result Now!

NoteNo Comments

You Are Here:I Wanna See The Result Now!

“Kami ingin melihat hasilnya sekarang! Sekarang juga!”, society said.

Sebagian besar masyarakat kita berpendapat seperti itu, ingin melihat hasil tanpa peduli soal proses. Budaya instan. Entah dari mana budaya itu datang. Sungguh berbahaya menggunakan itu sebagai prinsip hidup. Kita telah melihat sendiri berita-berita soal kampus abal-abal dan mahasiswanya yang bahkan juga tidak tahu apa mata kuliah favoritnya, tahu-tahu wisuda. Cerita lain misalnya, para orang tua yang takut sekali akan masa depan anaknya hingga kemudian mencari kenalan orang dalam untuk menjaminkan anaknya supaya bisa berkuliah di kampus tersebut. Jual beli ijazah ataupun mencari kenalan orang dalam itu nyata, bukan dongeng. Dan kita hidup di tengah-tengah arus itu. Sungguh, ini bisa membawa kita menjadi orang-orang yang licik.

Aku yang sedang berusaha menikmati setiap level proses yang aku jalani, kadang merasa panas dan jengkel dengan pendapat seperti itu. It’s like a pressure. And recently, I complained a lot. Because I didn’t get what I expect. And it made me so sensitive.

***
Jumat kemarin, aku ke solo untuk melihat pameran desain grafis. Banyak jenis desain yang dipamerkan, seperti tipografi, ilustrasi, logo, motion graphic, penerapan desain ke beberapa media, juga UI design. Selain pameran karya, ada juga cerita alur pembuatannya. Sewaktu aku melihat itu, satu hal yang tidak aku sangka adalah mahasiswa DKV juga menggunakan proses tracing dari foto untuk membuat karya. Tracing foto itu menjiplak foto untuk kemudian diproses menjadi karya baru. Pada saat awal aku belajar desain, aku juga menggunakan cara tracing, dan aku merasa hina sekali menggunakan cara itu. Then I realize, it’s not a mistake. Aku tidak perlu merasa rendah dengan menggunakan cara itu.

Di pameran itu juga ada sesi creative sharing yang menghadirkan tiga pembicara, Widya Rosena, Kristian Nico, dan Solechan. Waktu sesi tanya jawab, aku mengangkat tangan (biasanya aku mikir seribu kali untuk bertanya). Aku bertanya kepada Mas Nico tentang berapa lama prosesnya dari pertama kali mengenal desain hingga mempunyai usaha sendiri dan punya karyawan. Ia bercerita kurang lebih sudah 7 tahun ini menekuni desain. Diawali dari tahun 2010 dan mulai serius sejak 2012. Ketiga pembicara tersebut juga bercerita tentang bagaimana mereka dulu juga mengalami momen “nggak dibayar”. Mereka juga menekankan tentang pentingnya menjalani semua dengan hati. Kalau ada revisi desain, ya dikerjain aja, nggak pake “mutungan”, kurang lebih begitu kata mas Solechan.

Sepulang dari Solo, aku baca tulisannya Ms.K.


Level persistennya itu lho.. Gilak! Dan aku merasa segala yang aku keluhkan kemarin remeh. Sangat remeh. Level persistenku belum selevel sama Ms.K. Tabik, mbak Karlin!

***

Ketika aku mikir lagi, I think I am not bad at all. I’ve been progressing.
2014: kali pertama belajar nggambar dari tracing foto
2015: mulai paham adobe illustrator, belajar flat design, juga motion graphic
2016: mulai dapat pesenan video (walaupun belum kontinu), ngisi ilustrasi buku, dari flat design lanjut belajar painting di photoshop
2017: dapet kesempatan sharing di kelas, 2 bulan kerja sama orang, belajar painting landscape dan karakter

Well, semua proses belajar masih berlanjut. Untuk menjadi piawai perlu latihan selama 10.000 jam, begitu kata Malcolm Gladwell. Maka, itu membutuhkan waktu 3 – 10 tahun untuk mencapai titik terbaik, tergantung seberapa sering latihannya.


Kita lihat misalnya, Joey Alexander. Tahun 2016, kita dihebohkan dengan berita Joey, anak Indonesia, yang masuk nomisasi Grammy Awards dalam kategori Best Improvised Jazz Solo. Yang lebih menghebohkan, usia Joey baru 12 tahun. Jelas, Joey bukan anak kemarin sore yang baru pegang piano.

Sejak usia 6 tahun dia berlatih piano hingga mengeluarkan album pertamanya, My favorite Things, di tahun 2015. Perhatikan deh, pada 2015 ia berusia 12 tahun. Jadi, ada jarak 6 tahun dari awal ia berlatih piano hingga mengelurkan album pertamanya. Dan bahkan aku berpikir, sebenarnya Joey sudah mendapatkan stimulasi sejak dini, sebelum 6 tahun. Karena orang tuanya Joey senang mendengarkan musik Jaz. Dan selama 6 tahun itu, selain berlatih, Joey juga tampil di beberapa event dan bertemu musisi-musisi besar di bidang Jaz. Jadi, lingkungan Joey sangat mendukung sekali untuk ia bertumbuh.

Sekali lagi semua memang perlu proses. Tidak mungkin kita bisa menikmati lampu yang terang benderang seperti sekarang tanpa jasa Thomas Alva Edison yang konon melakukan percobaan hingga 1000 kali.

And the last, I say it to my self, “Live your life, Er!!”.

Bacaan menarik:
Katalog Pameran Desain Grafis: bit.ly/katalogbehind
Joey Alexander: https://en.wikipedia.org/wiki/Joey_Alexander
Malcolm Gladwell’s Rule: http://voices.nationalgeographic.com/2012/08/14/malcolm-gladwells-10000-hour-rule-visualized-practice-makes-perfect/

About the author:

Eria Arum adalah seorang yang passionate di bidang ilustrasi dan motion graphic. Saat ini tengah membuat English Learning Video untuk #EasyEnglish @karlinakuning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top