BUKU ASLI VS BUKU BAJAKAN

BUKU ASLI VS BUKU BAJAKAN

Suatu hari ada customer yang tanya begini..
“Mas, buku X beneran ori? Bedanya ori sama kw apa ya?”, tanyanya.
“Original, buku asli dicetak legal sama penerbit yang punya hak. KW sebaliknya, ilegal..”, jawabku.
“Kertasnya gimana?”, tanyanya lagi.

Sebagian dari kita menganggap buku itu hanya sekadar kertas dan tulisan. Nggak peduli itu buku asli atau bajakan. Toh isinya sama saja. Cuma beda kualitas kertasnya. Dulu aku juga berpikir seperti itu. Begitu aku ditawari buku yang katanya bagus sama penjualnya, aku beli juga. Walaupun itu buku bajakan. Karena harganya lebih murah tentunya. Selisihnya jauh banget. Aku ditawari dengan harga 15 ribu – 30 ribu, sedangkan di Gramedia harganya antara 60 ribu – 85 ribu.

Sekarang, kalau aku mengoleksi buku bajakan, rasanya aku tidak menghargai sebuah karya. Lebih jauh lagi, artinya aku tidak menghargai jerih payah penulisnya. Aku membayangkan betapa panjangnya proses terbitnya sebuah buku hingga sampai ke tangan pembaca. Dari penulis yang mencari ide, lalu membuat naskah yang tebalnya bisa sampai beratus-ratus halaman, kemudian dikirimkan ke penerbit. Dari penerbit masih harus mengantri dulu dengan ribuan naskah lainnya. Baru kemudian diproses, dibaca, dibalikin lagi ke penulis untuk direvisi sana-sini. Penulisnya sampai kurang tidur karena dikejar deadline. Sampai masuk angin juga. O iya, ada juga proses desain cover, layout, dan ilustrasi (bila diperlukan). Ketika fixed, naskah baru dicetak. Setelah dicetak baru didistribusikan ke toko-toko buku. Baru kemudian, sampai ke tangan pembaca. Apakah ini bisa diproses hanya 1-2 hari saja? Nggak kan? Dan tahu nggak sih, penulis itu dapatnya berapa? Kurang lebih 10% dari harga jual per buku (tergantung penerbit juga).

Nah, kalau kita beli buku bajakan, yang berarti tidak dicetak sama penerbit yang punya hak untuk mencetak buku itu, berarti ada hak dari penulis yang kita abaikan. Jelas hanya menguntungkan penerbit ilegal yang mencetak itu. Sedangkan penulisnya nggak dapat apa-apa. Bayangkan kalau kita jadi penulis itu. Aku aja, cuma gara-gara foto produk yang aku jual dicrop sama orang lain, terus dipajang di tokonya, aku bisa muring-muring. Apalagi kalau beratus-ratus eksemplar yang dicetak ilegal.

Nggak ada profesi yang nggak penting di dunia ini. Semua profesi itu penting. Walaupun itu hanya petugas kebersihan. Bayangkan aja, betapa repotnya kita kalau nggak ada petugas kebersihan di dunia ini. Gimana kalau nggak ada pelukis, nggak ada asisten rumah tangga, nggak ada penyanyi, nggak ada penulis, nggak ada petani, nggak ada koki, nggak ada atlet, nggak ada tukang bangunan, dan masih banyak lagi lainnya. Apapun profesinya, menurutku bukan masalah bekennya, bukan masalah kerennya, bukan masalah gajinya, tapi apakah kita sudah berkarya melalui profesi yang kita jalani sekarang? Apakah kita sudah membuat impact for the society melalui profesi kita? Dan nggak akan mungkin kita punya dedikasi, berkarya sepenuh hati, membuat impact, kalau kita nggak happy dengan yang profesi yang dijalani. So, are you happy? Are you ready to create a masterpiece?

Buku asli atau bajakan bagiku bukan hanya sekadar masalah kualitas cetakan dan kualitas kertas. Nggak sesepele itu. Nggak seremeh itu. Tapi, apakah kita bisa menghargai karya dari penulisnya. It’s about how we appreciate writer’s masterpiece. Kalau pengen karya kita dihargai orang lain, tentunya kita yang lebih dulu menghargai karya orang lain, iya kan?

Penulis sekelas Dee Lestari juga geram akan  buku bajakan.
Penulis sekelas Dee Lestari juga geram akan buku bajakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *