March 26, 2017

Belajar Mengukur Kecepatan dari Semut?

NoteNo Comments

You Are Here:Belajar Mengukur Kecepatan dari Semut?

Bagaimana cara kita diajari tentang konsep kecepatan dulu sewaktu di sekolah? Ingatanku membawaku pada ruang kelas dan buku pelajaran. Lalu, aku disajikan dengan gambar, dua titik yang dihubungkan dengan garis. Titik merupakan simbol perpindahan kendaraan dari tempat A menuju tempat B. Sedangkan garis adalah sebagai bentuk simbolisasi jarak yang ditempuh kendaraan tersebut. Selebihnya, aku hanya diminta membayangkan dan membayangkan untuk memahami pelajaran.

Berbeda sekali dengan apa yang aku amati di Sekolah Alam Bengawan Solo. Saat itu aku berada di kelas bersama fasilitator dan beberapa siswa kelas 5. Fasilitator memberikan tugas kepada siswa untuk mengukur kecepatan. Dengan apa? Semut. Jadi, tugasnya adalah siswa diminta untuk mencari semut dan mengukur jarak yang ditempuh semut untuk berjalan selama sepuluh detik. Dari data yang diperoleh tersebut, siswa dapat mengukur kecepatannya.

I was so amazed by that simple assignment using everything surrounds us. Aku sama sekali tidak pernah terpikir menggunakan semut untuk memahami konsep itu. Biasanya kita selalu menggunakan kendaraan sebagai contoh. Kenapa tidak menggunakan kendaraan? Karena tidak memungkinkan bagi siswa kelas 5 SD untuk mengendarai kendaraan.

Lain lagi dengan siswa kelas 6. Mereka diberi tugas untuk membuat layang-layang. Jadi, mereka memulai dari proses memotong bambu, menghaluskan, menali, mengelem, hingga terbentuklah layang-layang. Apakah berhenti hanya sampai di situ? Nggak. Setelah layang-layang tersebut jadi, siswa diminta untuk membuat laporan tentang prosedur pembuatan layang-layang, mengukur luasnya, dan menggambar bentuknya. Setelah tugas tersebut selesai, mereka berlari ke lapangan untuk menerbangkan layang-layang yang mereka buat.

Bagaimana dengan kelas 1? Siswa kelas 1 pada waktu itu aktivitasnya adalah membakar lele. Mereka diberi tugas untuk membersihkan hingga membakar lele tersebut. Di sela-sela membersihkan lele, fasilitator mengingatkan kembali siswa pada bagian-bagian tubuh ikan.

Itulah beberapa hal sederhana yang aku amati di sekolah tersebut. Bila ditarik benang merahnya, aku melihat mereka menggunakan benda-benda di sekitar untuk belajar. Benda-benda yang bisa dilihat, dipegang, dan dirasakan. Tentu sebelum melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, aku kira mereka sudah mendapatkan materi pendukungnya. Belajar di luar kelas dan menggunakan media alam untuk belajar adalah hal biasa bagi mereka, tapi tidak bagiku sewaktu aku seusia mereka. Bagiku belajar di luar kelas adalah hal yang eksklusif, malah seingatku guruku tidak pernah melakukan itu.

Belajar dengan guru menerangkan di depan kelas hanyalah tahapan awal dari proses belajar. Pada saat itu, murid hanya mendengarkan, mengingat, dan kemudian lupa. Kenapa lupa? Karena mereka belum diberi kesempatan untuk merasakan. Experiencing. Aktivitas itu sangat membantu sekali dalam membantu murid memahami materi. Apalagi bila dikemas dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan, seperti contoh aktivitas yang aku ceritakan di atas. Dengan begitu, murid akan mengingat momennya. Materi pun akan jadi sesuatu yang memorable karena mereka sendiri bisa mengamati, melihat, memegang, dan merasakan. Jadi, levelnya naik dari “aku tahu” menjadi “aku bisa dan aku paham”.

Aku jadi ingat dengan cara belajarku selama sekolah yang lebih sering berada di dalam kelas dengan guru menerangkan di depan. Guru menerangkan, memberi soal untuk latihan, kemudian ujian sebagai bentuk assessment. Pelajaran fisika, kimia, matematika, biologi menjadi pelajaran membayangkan hal abstrak. Masuk laboratorium pun bisa dihitung dengan jari selama aku sekolah. Itu pun tiba-tiba jadi ada kegiatan praktikum karena besoknya digunakan sebagai ujian praktik sekolah. Praktikum hanya menjadi kegiatan tambahan bukan utama. Jadi, selama ini cara belajarku sebagian besar pasif. Wajar kalau kemudian aku lupa.

Aku jadi bertanya, apakah memang sekolah selama 12 tahun, dari SD hingga SMA, dipersiapkan hanya sampai tahap transfer pengetahuan? Yang artinya memang dipersiapkan hanya sampai tahap mengingat (remembering) yang merupakan tahapan paling bawah dari proses belajar. Mengingat berarti tidak perlu berpikir. Tahapan berpikir aku rasa hanya bisa diperoleh ketika murid diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas. Dari situ mereka bisa belajar menganalisa. Setelah mereka bisa menganalisa, tahap selanjutnya adalah creating, entah itu dalam bentuk karya atapun project.

12 tahun bukan waktu yang sebentar. Apakah memang selama ini kita dipersiapkan menjadi orang-orang yang tidak berpikir? Bagaimana kita bisa berkarya bila selama ini guru tidak memfasilitasi murid untuk mengeksplorasi materi yang dipelajari dengan aktivitas yang menyenangkan?

Well, that’s my questions. Aku bukan guru, bukan pengajar, aku mengamati. I do care about education. It would be nice to have a discussion about that. So, what do you think about education? Let me know your opinion about that in the comment section below.

*****

Bagaimana aku bisa berada di Sekolah Alam Bengawan Solo? It’s another story. Aku sedang membantu temanku untuk menyelesaikan tugas akhirnya berupa film dokumenter tentang pendidikan. Sayangnya aku pun lupa untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang aku sebutkan di atas. Jadi, harus menunggu filmya rampung dulu untuk bisa melihat kegiatan-kegiatan di sana.

Ini tampilan Sekolah Alam Bengawan Solo.


Ini beberapa foto behind the scene.

IMG-20170207-WA0010IMG-20170207-WA0004IMG-20170207-WA0006

(Photos by: Dewi Rahmawati)

About the author:

Eria Arum adalah seorang yang passionate di bidang ilustrasi dan motion graphic. Saat ini tengah membuat English Learning Video untuk #EasyEnglish @karlinakuning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top